Sakawarta, Jakarta – Ketua Bidang Operational of Excellence Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Yurivanno Gani menyampaikan, hingga kuartal Q-III pada September 2025, total aset industri mencapai Rp648,58 triliun atau tumbuh 3,2%.
“Industri tetap berada pada posisi yang sehat secara finansial,” kata Yurivanno Gani di Rumah AAJI, Jakarta pada dikutip Rabu (10/12/2025).
Ia menuturkan, sebanyak 88,1% dari total aset merupakan aset investasi senilai Rp571,40 triliun.
“Stabilitas investasi menjadi penopang utama perlindungan jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Yurivanno.
Ia mencatat, hasil investasi industri naik 25,5% menjadi Rp33,81 triliun, didorong dengan menguatnya pasar modal.
Di sisi bersamaan, industri asuransi jiwa juga melakukan diversifikasi penempatan investasi di beberapa instrumen yang diperkenankan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Pertama, Surat Berharga Negara (SBN) mengalami pertumbuhan sebesar 15,2% dengan kontribusi terhadap total investasi sebesar 41,5% atau setara dengan Rp236,88 triliun.
Kedua, saham mengalami penurunan sebesar 14% dengan kontribusi terhadap total investasi sebesar 21,8% atau setara dengan Rp124,57 triliun.
Ketiga, reksadana mengalami penurunan sebesar 2,4% dengan kontribusi terhadap total investasi sebesar 12,4% atau setara dengan Rp70,60 triliun.
Keempat, sukuk korporasi mengalami pertumbuhan sebesar 16% dengan kontribusi terhadap total investasi sebesar 9,4% atau setara dengan Rp53,92 triliun.
Kelima, deposito mengalami penurunan sebesar 4,1% dengan kontribusi terhadap total investasi sebesar 5,8% atau setara dengan Rp33,17 triliun.
“Dominasi produk tradisional mendorong industri untuk memilih instrumen investasi yang aman dan berjangka panjang, sehingga pembayaran manfaat kepada para pemegang polis dapat terjamin meski ekonomi bergerak dinamis,” tambah Yurivanno.
