Site icon sakawarta.com

Airlangga Hartarto Ungkap Strategi RI Hadapi Tensi Geopolitik

Menko Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto meninjau simulasi program makan siang gratis di Tangerang. foto: airlanggahartarto_official.

Sakawarta, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, di tengah ketegangan geopolitik global, Indonesia menempatkan diri sebagai middle power, menjaga keseimbangan melalui diplomasi strategis, kemitraan ekonomi yang beragam, dan kepemimpinan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

‎Airlangga menjelaskan, Pemerintah Prabowo Subianto memperkuat ketahanan ekonomi melalui investasi melalui energi terbarukan, manufaktur bernilai tambah, dan teknologi maju guna mendorong berkembangnya transformasi digital, serta penciptaan lapangan kerja bagi kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

‎Menurut Airlangga, kondisi global saat ini ditentukan oleh kekuatan, bukan ideologi, sehingga menuntut keseimbangan dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

‎Dengan demikian, kata dia, Indonesia sebagai kekuatan menengah, menjaga netralitas dengan memperkuat ekonomi melalui strategi diplomasi, perdagangan, dan kerja sama regional.

‎Di sisi bersamaan, kata Airlangga, ditargetkan ketahanan ekonomi harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan nyata, berfokus pada jasa, manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, dan teknologi maju.

‎”Kolaborasi regional, terutama dalam semikonduktor generasi berikutnya, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan sistem multilateral yang stabil,” ujar Airlangga dalam event Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Shangri-La Hotel, Jakarta, dikutip Rabu (4/2/2026).

‎Sebagai informasi, forum ekonomi tahunan ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor global, akademisi, serta organisasi internasional dari 53 negara untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika global.

‎Mengusung tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”, IES 2026 dirancang sebagai ruang dialog strategis sekaligus platform kolaborasi yang menjembatani arah kebijakan, kepentingan dunia usaha, dan peluang investasi.

Dalam IES 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Premier Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg, serta Chairman of the Board of Trustees Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel membahas peran investasi sebagai pendorong pertumbuhan baru, termasuk peluang Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan.

‎Para pemimpin ini menyoroti pentingnya penguatan industri bernilai tambah, percepatan infrastruktur, dan konektivitas regional–global agar investasi lebih cepat masuk dan proyek dapat dieksekusi. Mereka juga menekankan perlunya kerja sama lintas negara untuk memperkuat rantai nilai dan memastikan transformasi ekonomi berjalan lebih konsisten dan berdampak.

Pada hari pertama, IES 2026 menghadirkan rangkaian pembicara dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha nasional yang aktif terlibat dalam penyusunan arah kebijakan, antara lain Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa; Menteri Koordinator Infrastruktur dan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono; serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu.

Di sisi internasional, IES 2026 juga mendatangkan Menteri Perdagangan dan Promosi Ekspor Kanada (2015-2025), Mary Ng; Utusan Khusus Australia untuk ASEAN, Nicholas Moore; Chief Economist Asian Infrastructure Investment Bank, Erik Berglöf; serta Penasihat Danantara, Champan Taylor. Mereka berdialog bersama pemimpin industri dan investor global mengenai bagaimana mempercepat masuknya investasi, memperkuat eksekusi proyek, dan merampungkan reformasi struktural yang diperlukan agar peluang menjadi proyek nyata.

Diskusi membahas arah kebijakan ekonomi nasional, strategi menarik investasi jangka panjang, transformasi industri, penguatan daya saing global, pengembangan ekonomi hijau, serta pembangunan sumber daya manusia. Para pembicara menyoroti pentingnya reformasi struktural, transformasi digital, dan integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif dan produktif.

Forum ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai jangkar stabilitas ekonomi kawasan serta mitra penting dalam rantai nilai global, di tengah ketidakpastian ekonomi global, fragmentasi geopolitik, dan tekanan transformasi struktural.



Exit mobile version