Site icon sakawarta.com

BlueScope Umumkan Steel Architectural Awards ASEAN 2026, Kompetisi Arsitektur Baja Modern

Steel Architectural Awards ASEAN 2026. Foto: BlueScope.

Sakawarta, Jakarta – Country President PT NS BlueScope Indonesia Jenny Margiano menjelaskan bahwa material baja modern memiliki karakteristik yang sejalan dengan kebutuhan arsitektur berkelanjutan.

‎”Material ini bisa didaur ulang, fleksibel untuk berbagai desain, dan tangguh menghadapi kondisi iklim ekstrem. Kualitas tersebut sangat dibutuhkan ASEAN saat ini,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Selasa (6/1/2026).

‎Sebagaimana diketahui, wilayah Asia Tenggara (ASEAN) saat ini sedang berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, kawasan ini mengalami proses urbanisasi tercepat di dunia dengan proyeksi ratusan juta penduduk kota pada 2030. Di sisi lain, wilayah ini juga paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut hingga gelombang panas ekstrem.

‎Menurut dia, kondisi ini menuntut pendekatan arsitektur yang tidak lagi bisa mengandalkan pola lama yakni build, demolish, and rebuild.

‎Maka itu, diperlukan material dan desain yang tidak hanya estetik, tetapi juga adaptif, tahan lama, dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, evolusi teknologi material, termasuk baja modern, mulai memainkan peran penting.

‎Jenny Margiano menjelaskan, kemampuan baja untuk didaur ulang hingga 100% tanpa kehilangan kualitas menjadikannya pilihan masuk akal dalam konteks ekonomi sirkular yang kini tengah digalakkan ASEAN.

“Fleksibilitasnya juga memungkinkan desain yang lebih responsif terhadap kondisi lokal, mulai dari ventilasi alami untuk iklim tropis hingga struktur yang tahan gempa,” ujarnya.

‎Jenny pun mengumumkan ihwal peluncuran program Steel Architectural Awards ASEAN 2026, sebuah kompetisi terbuka untuk menampung karya-karya inovatif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Program ini mencakup berbagai kategori mulai dari hunian, komersial, infrastruktur hingga bangunan institusional.

‎Jenny mengungkap antusiasmenya terhadap program Steel Architectural Awards ASEAN 2026.

‎”Penghargaan ini mengakui pencapaian bagi para arsitek yang telah merekomendasikan produk kami di balik beragam struktur inovatif di wilayah ASEAN, sekaligus memperdalam kolaborasi kami dengan komunitas desain Australia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pertumbuhan profesional di seluruh wilayah,” ujarnya.

‎Ia menerangkan, penilaian tidak hanya berdasarkan estetika, tetapi juga bagaimana proyek tersebut merespons konteks lokal, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, dan memberikan dampak jangka panjang bagi komunitas.

‎Adapun dewan juri kompetisi ini terdiri dari para ahli arsitektur terkemuka seperti Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ar. Firman Setia Herwanto,  Presiden ASA Ar. Asae Sukhyanga, serta akademisi dan praktisi dari Vietnam, Malaysia, dan Australia, akan menilai sejauh mana sebuah karya berhasil mewujudkan visi “resilient futures” atau masa depan yang tangguh dan bertanggung jawab.

Exit mobile version