Site icon sakawarta.com

Kembangkan MPTree, Semen Merah Putih Pelopor Sulap Emisi menjadi Solusi Lestari

Head of Marketing CMNT Nyiayu Chairunnikma saat menjadi pembicara “Dari Laboratorium ke Dunia Nyata, Menumbuhkan Solusi Dekarbonisasi Industri Semen” di Jakarta, Selasa (25/11/2025). Foto: Morteza Syariati Albanna.

Sakawarta, Jakarta – PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) sebagai emiten Semen Merah Putih, memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulan guna menekan emisi karbon dengan mengembangkan MPTree, yang merupakan progres substansial dari inovasi bioteknologi terbarukan yang menjadi terobosan di industri konstruksi.

“Kolaborasi Semen Merah Putih dan Algaepark Indonesia melalui MPTree adalah bukti nyata bahwa sektor swasta Indonesia memiliki kemampuan dan komitmen untuk menghadirkan solusi bioteknologi yang transformatif,” kata Head of Marketing CMNT Nyiayu Chairunnikma atau Ayu saat konferensi pers di Jakarta pada Selasa (25/11/2025).

Sebagai bukti follow-up dan komitmen CSR tinggi melalui MPTree ini, lanjut Ayu, perusahaan tidak berhenti pada uji riset di laboratorium. Sebab, program ini akan melanjutkan ke tahapan pemasangan di beberapa pabrik milik Semen Merah Putih dan area publik.

“Setelah uji lapangan terbukti efektif, dalam waktu dekat Semen Merah Putih akan segera memasang satu unit MPTree selanjutnya di Plant Jatiasih, Bekasi pada Desember yang akan datang,” kata Ayu.

Ia menekankan, hal ini menunjukkan langkah proaktif dan strategis Semen Merah Putih dalam menerapkan solusi canggih di wilayah operasionalnya, guna memberikan dampak positif langsung pada kualitas udara masyarakat sekitar.

Ayu menegaskan, kepeloporan ini menegaskan bahwa peran industri konstruksi bukan hanya sebagai pemenuh kebutuhan material, tetapi juga sebagai bagian integral dari solusi iklim nasional.

“Dengan rencana implementasi di Bekasi, kami menegaskan posisi kami sebagai pelopor industri yang mengubah emisi menjadi solusi berkelanjutan,” tutur Ayu.

Ia mengharapkan, inovasi ini dapat menjadi harapan baru dalam upaya dekarbonisasi dan mitigasi polusi, sekaligus memberikan optimisme bagi masa depan konstruksi yang lebih hijau dan kota yang lebih sehat.

“Semen Merah Putih sendiri berkomitmen untuk terus mengembangkan riset dan implementasi MPTree sebagai bagian dari dedikasinya pada lingkungan dan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Bagi Semen Merah Putih, kata Ayu, usaha berkelanjutan adalah salah satu inti bisnis yang harus diwujudkan lewat bukti ilmiah konkret.

“Inovasi MPTree yang terbukti setara dengan 16 pohon, menegaskan niatan kami sebagai pelopor yang mengubah emisi menjadi solusi lestari. Ini adalah komitmen jangka panjang Semen Merah Putih demi masa depan konstruksi yang lebih hijau dan kota yang lebih sehat,” kata Nyiayu.

Ia menyatakan bahwa posisi Semen Merah Putih sebagai pionir industri hijau dimantapkan oleh bukti sains dan investasi yang nyata.

Dengan inovasi MPTree, kata dia, perusahaan menegaskan komitmen Net Zero Emission melalui implementasi di infrastruktur produksi dan wilayah publik, untuk mengubah emisi menjadi solusi yang berkelanjutan. Ayu meyakini pemosisian usaha berkelanjutan haruslah dilengkapi dengan bukti.

“Inovasi MPTree membuktikan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan adalah prioritas kami, dan target Net Zero Emission kami didukung oleh sains dan investasi teknologi yang berani. Dengan rencana implementasi di Bekasi, kami menegaskan posisi kami sebagai pelopor industri yang mengubah emisi menjadi solusi berkelanjutan,” jelas Ayu.

Konsep di balik MPTree berakar pada keunggulan ilmiah sel mikroalga yang secara alami memiliki efisiensi penyerapan CO2 sangat tinggi. Kisarannya sekitar 15 hingga 50 kali lipat dibandingkan mekanisme fotosintesis pohon konvensional. Lewat teknologi fotobioreaktor, potensi alami mikroalga ini dioptimalkan dalam sebuah sistem tertutup yang cerdas.

Inovasi MPTree juga memiliki potensi melampaui mitigasi emisi. Setelah CO2 terserap, sistem ini berhasil menyimpan karbon hingga total 91,7%, yang terbagi menjadi Karbon Biomassa Kering sebesar 13,5% dan Karbon Terlarut sebesar 78,2%. Biomassa kering yang dihasilkan ini, yang merupakan mikroalga itu sendiri, membuka peluang untuk diolah lebih lanjut.

Dalam skema ekonomi sirkular, biomassa ini berpotensi besar untuk diubah menjadi biofertilizer (pupuk hayati) untuk pertanian, atau bahkan dikembangkan menjadi biofuel sebagai sumber energi terbarukan di masa depan. Dengan demikian, Semen Merah Putih tidak hanya menghilangkan limbah, tetapi secara harfiah mengubahnya menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Komisaris Utama Algaepark Indonesia Mandiri Is Heriyanto menjelaskan, perspektif ilmiah dari proses sinergi sains dan industri yang menjadikan MPTree istimewa.

Menurutnya, inovasi tersebut berhasil menciptakan ekosistem sirkular, di mana emisi yang sebelumnya dianggap polutan kini dapat diubah menjadi biomassa yang bernilai tambah.

Ia menyimpulkan bahwa model MPTree menunjukkan secara nyata bagaimana tantangan lingkungan dapat ditransformasi menjadi peluang ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“Kami menciptakan ekosistem sirkular, di mana emisi yang sebelumnya dianggap polutan kini diubah menjadi biomassa bernilai tambah. Inovasi ini adalah model yang menunjukkan bahwa masalah lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi hijau yang berkelanjutan,” papar Heriyanto.

Sebagai informasi, Kinerja superior MPTree dalam mengubah emisi menjadi solusi dapat diuraikan melalui tiga fokus utama yang menegaskan keunggulan teknis, komitmen korporasi, dan dampak ekonomi sirkular. Yang pertama adalah soal keunggulan teknis dan efisiensi superior bioteknologi.

Kualitas fotobioreaktor MPTree terjamin dengan implementasi teknologi yang terstruktur dan canggih. Sistem ini dirancang untuk beroperasi secara hibrid menggunakan tenaga Panel Surya dan PLN, sehingga menjamin kultivasi mikroalga berjalan 24 jam sehari.

Selain itu, akurasi data dan pemantauan keberlanjutan proses terjamin berkat integrasi IoT dan empat sensor real-time yang terus menerus memonitor CO2 yang diserap, O2 yang dihasilkan, pH dan suhu air, serta kepadatan sel dalam kultur cair mikroalga.

Exit mobile version