Sakawarta, Jakarta – Ekonom Universitas Andalas (Unand) Prof. Syafruddin Karimi mengatakan, membangun tempat penampungan sementara di lokasi aman harus menjadi prioritas mutlak negara saat ini.
Sebab, di banyak desa terisolir di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar), warga bukan sekadar menderita, mereka sedang terancam nyawanya.
”Akses jalan putus, komunikasi lumpuh, dan bantuan makanan datang sangat sedikit dengan interval waktu yang panjang,” kata Syafruddin dalam keterangannya dikutip Selasa (9/12/2025).
Syafruddin menyoroti di mana warga bertahan dengan stok pangan yang makin menipis, air bersih sulit, dan risiko banjir susulan atau longsor baru selalu menggantung di kepala.
”Dalam situasi seperti ini, menunggu di lokasi berbahaya berarti menunda bahaya yang bisa datang kapan saja,” ucapnya.
Maka itu, uja Syafruddin, Pemerintah perlu segera menentukan titik-titik aman untuk membangun penampungan sementara.
Terpenting, kata dia, lokasinya harus bebas dari risiko banjir dan longsor, serta memiliki akses ke jalan utama, juga cukup dekat agar logistik dan tenaga kesehatan mudah menjangkau.
”Pemetaan ini perlu melibatkan BNPB, BMKG, ahli geologi, pemerintah daerah, TNI, dan tokoh lokal,” tuturnya.
Ditegaskan, penampungan tidak boleh dibangun di bantaran sungai yang sama atau kaki lereng rapuh, karena itu hanya memindahkan risiko dari satu titik ke titik lain.
Syafruddin melanjutkan, setelah lokasi ditetapkan, negara wajib membangun penampungan dengan standar kemanusiaan yang layak.
”Tenda besar, hunian modular, atau shelter kayu dan baja ringan dapat dipakai, asalkan memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi, listrik darurat, ruang keluarga yang manusiawi, serta area aman bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas,” tuturnya
Di sisi bersamaan, dapur umum, posko kesehatan, dan ruang belajar darurat untuk anak-anak perlu hadir sejak awal. Sebab, penampungan yang kotor, sesak, dan tanpa privasi hanya akan menciptakan masalah baru seperti penyakit menular, konflik sosial, dan trauma berkepanjangan.
Sementara eldi desa-desa terisolir, strategi terbaik bukan lagi mengirim bantuan sedikit demi sedikit dengan helikopter atau perahu.
Menurut dia, lebih tepat memindahkan warga ke penampungan yang dibangun secara terencana jauh lebih efektif untuk menyelamatkan nyawa dan memulihkan martabat korban.
”Di penampungan, distribusi makanan, layanan kesehatan, pendataan, dan perlindungan sosial dapat dilakukan lebih sistematis. Negara dapat menjamin bahwa tidak ada keluarga yang luput dari bantuan hanya karena tinggal di bukit terpencil atau lembah yang sulit dijangkau,” ujarnya.
Syafruddin menekankan, untuk itu evakuasi total dari desa berisiko tinggi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Maka, Pemerintah perlu mengerahkan helikopter, perahu karet, kendaraan taktis, dan seluruh sumber daya yang tersedia hingga orang terakhir di desa-desa terisolir berhasil keluar.
”Komunikasi dengan pemimpin adat, ulama, dan tokoh masyarakat sangat penting agar warga memahami bahwa relokasi sementara ini adalah bentuk perlindungan, bukan pembuangan. Setelah korban berkumpul di tempat aman, negara baru benar-benar berada pada posisi yang kuat untuk melanjutkan tahap berikutnya: rekontruksi, pemulihan ekonomi, dan penataan ulang permukiman yang lebih tahan bencana. Di titik itulah penampungan sementara menjadi gerbang awal bagi pemulihan Sumatra yang lebih adil dan bermartabat,” kata Syafruddin.
Pemerintah Didesak Segera Relokasi Korban Bencana Sumatra ke Lokasi Penampungan Aman

Guru Besar Ekonomi Unand Prof Syafruddin Karimi. Foto: ist.