Site icon sakawarta.com

Schneider Electric Rilis Studi Risiko Arc Flash Data Center 800 VDC

Sakawarta, Jakarta – Schneider Electric mengumumkan analisis pertama di industri yang memberikan panduan praktis mengenai cara mengidentifikasi, menilai dan memitigasi risiko arc flash, ledakan energi listrik yang menghasilkan panas ekstrem serta berpotensi menyebabkan cedera serius dan kerusakan peralatan pada arsitektur daya 800 VDC.

Berdasarkan skenario penerapan yang mengacu pada pola desain perusahaan hyperscaler, analisis ini membandingkan dua arsitektur 800 VDC yang sedang berkembang dengan konfigurasi berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa dampak arc flash sangat dipengaruhi oleh desain arsitektur, penempatan kapasitor, dan kecepatan sistem dalam memutus gangguan.

Salah satu temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa risiko arc flash pada sistem 800 VDC tetap dapat diatasi, bahkan dalam skenario paling berat yang didominasi oleh kapasitor.

Dalam banyak kasus, tingkat risikonya juga sebanding dengan sistem AC pada umumnya. Selain itu, pemodelan yang lebih baik menggunakanperangkat lunak canggih dan digital twin dapat membantu menggambarkan risiko arc flash secara lebih akurat

Temuan ini hadir pada saat yang krusial, ketika arsitektur 800 VDC mulai diterapkan untuk mendukung rak berkapasitas lebih tinggi di data center AI.

Dipimpin oleh NVIDIA bersama mitra teknologi energi seperti Schneider Electric, transisi menuju infrastruktur daya data center 800 VDC akan memungkinkan data center berskala besar dan AI Factories mendukung rak TI berkapasitas 400 kW atau lebih.

Seiring dengan percepatan industri menuju kepadatan daya yang lebih tinggi, distribusi 800 VDC menjadi solusi praktis untuk memasok daya ke rak berskala megawatt secara efisien. Namun, penggunaan tegangan operasi yang lebih tinggi juga membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakteristik gangguan, koordinasi sistem proteksi, dan praktik kerja yang aman.

“Distribusi daya 800 VDC merupakan perubahan besar dalam desain data center, tetapi juga menghadirkan aspek keselamatan yang perlu dikaji secara menyeluruh,” ujar Manish Kumar, EVP Secure Power & Data Centers Schneider Electric dalam keterangannya dikutip Rabu, 23 September 2026.

“Kolaborasi kami dengan sejumlah perusahaan hyperscaler terkemuka dunia memberikan salah satu kerangka praktis pertama bagi para engineer dan profesional keselamatan untuk mengevaluasi risiko arc flash. Kerangka ini menawarkan pendekatan terstruktur untuk memahami karakteristik gangguan, menetapkan praktik kerja yang aman, serta merancang sistem proteksi yang efektif. Tujuan kami adalah membantu industri beralih ke arsitektur bertegangan lebih tinggi dengan aman dan penuh percaya diri,” ucapnya menambahkan.

Analisis arc flash telah menjadi praktik standar di data center AC. Namun, hingga saat ini belum terdapat standar atau panduan yang berlaku secara luas di industri untuk mengelola bahaya kelistrikan yang mungkin dihadapi personel pada sistem 800 VDC yang dipasokmelalui konverter.

Karena itu, penelitian terbaru ini penting untuk membantu mengevaluasi dan mengelola risiko arc flash sekaligus memastikan sistem 800 VDC memiliki tingkat keselamatan yang sebanding dengan sistem daya yang digunakan saat ini.

Standar yang ada cenderung memperkirakan risiko arc flash secara berlebihan, sementara analisis simulasi Schneider Electric menunjukkan bahwa perangkat lunak canggih dan digital twin dapat memodelkan risiko tersebut secara lebih akurat. []

Exit mobile version