Site icon sakawarta.com

Temuan Inventure soal Fenomena FOMO Memangkas Belanja Kebutuhan Pokok

Managing Partner Inventure, Yuswohady saat konferensi pers di Tebet, Jakarta Selatan pada Selasa (9/12/2025). Foto: Morteza Syariati Albanna.

Sakawarta, Jakarta – Managing Partner Inventure, Yuswohady menjelaskan, tekanan ekonomi yang berkepanjangan tidak hanya membuat konsumen berhati-hati, tetapi turut mengubah pola prioritas belanja secara radikal.

Yuswohady pun mengungkap survei Inventure–Alvara 2025 yang melibatkan 589 responden, menemukan bahwa 61% konsumen rela mengurangi pembelian kebutuhan pokok demi membeli produk baru atau premium yang sedang viral. Sementara 39% lainnya memilih tidak melakukan pengalihan tersebut.

“Fenomena ini menandai realitas baru yaitu sekalipun konsumen hidup dalam kondisi dormant economy, mereka tetap mencari ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan aspiratif,” kata Yuswohady dalam keterangannya dikutip Selasa (9/12/2025).

Menurut dia, produk viral dianggap menawarkan nilai lebih baik karena kualitas yang dianggap tahan lama, maupun karena aspek status, pengalaman, dan keterhubungan sosial di media digital.

Yuswohady berpendapat, perilaku ini mencerminkan logika frugal yang semakin matang.

“Frugal consumer tidak sekadar mengencangkan ikat pinggang, mereka mengalihkan belanja ke kategori yang memberikan reward emosional dan sosial. Kebutuhan pokok bisa ditunda, tetapi kebutuhan untuk tetap merasa ‘relevan’ dan ‘up-to-date’ dianggap lebih meaningful,” ucapnya.

Ia menekankan, prioritas baru ini menunjukkan sifat dasar Frugal Consumer yakni mereka tidak sepenuhnya menahan konsumsi, tetapi melakukan realokasi strategis dengan menekan pos rutin yang dianggap kurang meaningful dan mengutamakan pembelian yang memberikan value, utility, atau status boost lebih besar, meski harganya lebih tinggi.

Ia menambahkan, pergeseran ini menjadi sinyal strategis bagi industri retail, di mana kategori kebutuhan pokok tidak lagi menjadi “pembelian default”, sementara kategori lifestyle, premium, dan viral-driven justru memiliki daya tarik tinggi meski ekonomi belum pulih.

Menurut dia, di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian, konsumen menginginkan sesuatu yang terasa seperti reward.

“Dengan kata lain, konsumen tetap berhemat tetapi berhemat secara selektif. Mereka menahan banyak hal, namun tidak pada apa yang membuat mereka merasa berdaya, relevan, dan terkoneksi,” kata Managing Partner Inventure, Yuswohady.

Exit mobile version