Sakawarta, Jakarta – Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) mengungkap hasil riset dan penelitiannya perihal seberapa besar pemberitaan dan peliputan media massa, juga media sosial X yang mengangkat tema besar seputar isu pendidikan nasional dalam “Sub Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan, Sistem dan Kurikulum Pendidikan, Sarana dan Prasarana Pendidikan”, serta hal-hal umum lainnya yang ada kaitannya dengan bidang ini.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Riset YRM, Dr. Rahmat Edi Irawan dalam seminar nasional yang mengangkat tema “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI”, terselenggara di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, pada Rabu (26/11/2025).
Dr. Rahmat menjelaskan, dalam penelitian dan risetnya ini, ia mengambil populasi dan sampel berita dalam kurun waktu 10 bulan, dari delapan media massa online nasional periode Januari 2025-Oktober 2025. Bukan televisi, radio atau media cetak yang agak sulit untuk dianalisis.
Adapun portal yang dijadikan rujukan YRM ialah Kompas.com, Tempo.co, Tribunnews.com, Kumparan.com, Liputan6.com, Detik.com, CNNIndonesia.com, SINDOnews.
“Pilihan kami ada delapan. Kami anggap media-media tersebut adalah media-media yang cukup banyak subscriber-nya, cukup banyak pembacanya. Selain itu, mereka konsisten dengan konten di news portalnya,” kata Dr. Rahmat.
Dr. Rahmat pun mengungkap temuannya saat melakukan penelitian selama 10 bulan, yakni dalam sehari portal berita bisa mempublikasi sekitar 2.060 artikel atau sekira 61.800 artikel selama sebulan dalam tema umum, di luar kata kunci (keyword) Pendidikan.
Dengan asumsi, selama 10 bulan portal berita bisa mempublikasikan 618.000 artikel.
“Ada sekitar dari 8 news portal itu, kurang lebih ada 2060 artikel sehari. Ternyata jumlah artikel yang mengangkat isu pendidikan itu hanya 1.499 dibanding 618.000 artikel yang di 8 news portal tersebut. Jadi kalau kita prosentasekan, jumlahnya sangat kecil sekali. Hanya 0,0024 persen. Tidak sampai 0,1 persen bahkan,” ucapnya.
“Kami tarik datanya dengan berbagai macam keyword, bahkan kami arsir juga secara manual untuk mendapatkan kesahihan walaupun mungkin ada kelemahan,” ujar dia lagi.
Menurut dia, hal ini patut dikritisi. Sebab, isu terkait pendidikan dinggap tidak cukup seksi bagi media massa dan tak banyak dibicarakan oleh masyarakat.
Ia pun mendorong redaksi media online mainstream nasional untuk mulai gencar membuat agenda setting mencakup isu Pendidikan agar lebih banyak pembaca yang terliterasi dengan isu tersebut.
“Jadi ini tantangan tersendiri bagaimana mengemas isu pendidikan bagi media juga, sehingga akhirnya orang merasa tertarik, tapi juga bagaimana caranya orang-orang di belakang dunia pendidikan juga mampu mengemas atau menyosialisasikan aktivitas mereka dan lain sebagainya, itu yang bisa menarik perhatian media massa,” katanya.
Sementara, APBN melalui amanat UUD 1945 mengisyaratkan 20% alokasi anggarannya diperlukan untuk pendidikan nasional.
“Apakah pemerintah mematuhi itu? Termasuk juga misalnya terakhir anggaran itu sebagian juga misalnya digunakan oleh Makan Bergizi Gratis (MBG),” tutur dia.
Oleh sebab itu, Dr. Rahmat akan menyampaikan temuannya ini kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Hal ini akan disampaikan kepada Kemdiktisaintek, Kemendikdasmen, dan otoritas Pendidikan terkait,” ujar Dr. Rahmat.
Yayasan Rawamangun Mendidik Ungkap Temuan: Pemberitaan Seputar Isu Pendidikan Tidak Sampai 0,1%
Jakarta – Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) mengungkap hasil riset dan penelitiannya perihal seberapa besar pemberitaan dan peliputan media massa, juga media sosial X yang mengangkat tema besar seputar isu pendidikan nasional dalam “Sub Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan, Sistem dan Kurikulum Pendidikan, Sarana dan Prasarana Pendidikan”, serta hal-hal umum lainnya yang ada kaitannya dengan bidang ini.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Riset YRM, Dr. Rahmat Edi Irawan dalam seminar nasional yang mengangkat tema “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI”, terselenggara di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, pada Rabu (26/11/2025).
Dr. Rahmat menjelaskan, dalam penelitian dan risetnya ini, ia mengambil populasi dan sampel berita dalam kurun waktu 10 bulan, dari delapan media massa online nasional periode Januari 2025-Oktober 2025. Bukan televisi, radio atau media cetak yang agak sulit untuk dianalisis.
Adapun portal yang dijadikan rujukan YRM ialah Kompas.com, Tempo.co, Tribunnews.com, Kumparan.com, Liputan6.com, Detik.com, CNNIndonesia.com, SINDOnews.
“Pilihan kami ada delapan. Kami anggap media-media tersebut adalah media-media yang cukup banyak subscriber-nya, cukup banyak pembacanya. Selain itu, mereka konsisten dengan konten di news portalnya,” kata Dr. Rahmat.
Dr. Rahmat pun mengungkap temuannya saat melakukan penelitian selama 10 bulan, yakni dalam sehari portal berita bisa mempublikasi sekitar 2.060 artikel atau sekira 61.800 artikel selama sebulan dalam tema umum, di luar kata kunci (keyword) Pendidikan.
Dengan asumsi, selama 10 bulan portal berita bisa mempublikasikan 618.000 artikel.
“Ada sekitar dari 8 news portal itu, kurang lebih ada 2060 artikel sehari. Ternyata jumlah artikel yang mengangkat isu pendidikan itu hanya 1.499 dibanding 618.000 artikel yang di 8 news portal tersebut. Jadi kalau kita prosentasekan, jumlahnya sangat kecil sekali. Hanya 0,0024 persen. Tidak sampai 0,1 persen bahkan,” ucapnya.
“Kami tarik datanya dengan berbagai macam keyword, bahkan kami arsir juga secara manual untuk mendapatkan kesahihan walaupun mungkin ada kelemahan,” ujar dia lagi.
Menurut dia, hal ini patut dikritisi. Sebab, isu terkait pendidikan dinggap tidak cukup seksi bagi media massa dan tak banyak dibicarakan oleh masyarakat.
Ia pun mendorong redaksi media online mainstream nasional untuk mulai gencar membuat agenda setting mencakup isu Pendidikan agar lebih banyak pembaca yang terliterasi dengan isu tersebut.
“Jadi ini tantangan tersendiri bagaimana mengemas isu pendidikan bagi media juga, sehingga akhirnya orang merasa tertarik, tapi juga bagaimana caranya orang-orang di belakang dunia pendidikan juga mampu mengemas atau menyosialisasikan aktivitas mereka dan lain sebagainya, itu yang bisa menarik perhatian media massa,” katanya.
Sementara, APBN melalui amanat UUD 1945 mengisyaratkan 20% alokasi anggarannya diperlukan untuk pendidikan nasional.
“Apakah pemerintah mematuhi itu? Termasuk juga misalnya terakhir anggaran itu sebagian juga misalnya digunakan oleh Makan Bergizi Gratis (MBG),” tutur dia.
Oleh sebab itu, Dr. Rahmat akan menyampaikan temuannya ini kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Hal ini akan disampaikan kepada Kemdiktisaintek, Kemendikdasmen, dan otoritas Pendidikan terkait,” ujar Dr. Rahmat.
