Ekonomi

Jangan Hanya Menatap Kenaikan Harga Emas Dunia, Tatap Juga Penyebabnya

‎*Opini: Achmad Nur Hidayat, Ekonom & Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Sakawarta, Jakarta – Apakah emas dunia benar-benar “balik arah” pada Rabu (4/2/2026) atau ini sekadar pantulan sesaat setelah dua hari terjun?

Publik baru saja menyaksikan drama harga yang ekstrem: emas sempat menyentuh rekor sekitar US$5.626 per ons, lalu jatuh lebih dari 13 persen, sebelum memantul lagi dengan kenaikan harian yang besar.

Masalahnya bukan hanya soal naik atau turun.

Masalah yang lebih penting adalah mengapa pasar bisa sedemikian sensitif, mengapa harga emas lokal terasa “tidak selalu sejalan” dengan harga dunia, dan bagaimana rencana pergantian pimpinan bank sentral Amerika Serikat memengaruhi psikologi investor dari Jakarta sampai Shanghai.

Di titik ini, emas bukan sekadar logam mulia. Ia adalah cermin dari rasa aman, rasa takut, dan rasa percaya publik terhadap kebijakan.

Kenaikan hari ini lebih mirip “tarikan napas” setelah kepanikan, bukan akhir dari volatilitas.

Namun, tarikan napas ini memberi petunjuk: pasar masih percaya cerita besar emas belum selesai, hanya ritmenya yang berubah.

Emas Diburu saat Langit Tidak Menentu

Bayangkan emas seperti payung di musim hujan yang sulit ditebak. Ketika langit mulai gelap, orang berebut payung. Harga naik.

Ketika hujan ternyata tidak jadi, sebagian orang mengembalikan payung atau menjualnya kembali. Harga turun. Lalu ketika hujan benar-benar turun di sore hari, payung dicari lagi. Harga naik lagi.

Dalam beberapa hari terakhir, “langit gelap” itu bernama ketidakpastian arah suku bunga, arah dolar AS, dan kredibilitas kebijakan moneter.

Emas naik bukan karena semua orang menjadi penggemar emas, melainkan karena banyak orang ingin memegang sesuatu yang nilainya dianggap lebih “tahan cuaca”.

Dua Hari Turun, Hari Ini Naik: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Penurunan dua hari terakhir pada dasarnya dipicu oleh kombinasi profit taking dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter yang mendadak.

Banyak laporan menyebut bahwa salah satu pemicu sentimen adalah kabar nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya, yang dipersepsikan sebagian pelaku pasar lebih hawkish dibanding ekspektasi sebelumnya.

Persepsi “lebih hawkish” biasanya diterjemahkan menjadi potensi suku bunga lebih tinggi atau lebih lama, yang mendorong penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil, lalu menekan emas.

Namun, pasar bukan ruang kuliah yang serba rapi. Setelah aksi jual besar, muncul mekanisme yang lebih manusiawi: rasa menyesal dan naluri “membeli saat diskon”.

Itulah yang sering disebut dip-buying. Ketika dolar berhenti menguat seagresif dua hari sebelumnya, ruang untuk pantulan harga terbuka.

Jadi, kenaikan Rabu ini bukan karena “fakta baru” yang membuat emas tiba-tiba lebih berharga dalam semalam.

Kenaikan ini terutama karena ritme kepanikan mereda, posisi spekulatif dikurangi, dan pembeli yang menunggu kesempatan masuk kembali merasa momentumnya pas.

Dari Wall Street ke Toko Emas: Mengapa Harga Lokal Bisa Terlihat Berbeda?

Pertanyaan berikutnya, yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia, adalah mengapa emas lokal sempat turun dua hari terakhir dan bagaimana kondisinya hari ini.

Di Indonesia, publik melihat angka yang konkret. Misalnya, harga emas Antam pada Rabu, 4 Februari 2026 diberitakan naik Rp102.000 menjadi sekitar Rp2.946.000 per gram.

Namun, sehari sebelumnya, 3 Februari 2026, harga Antam diberitakan anjlok Rp183.000 ke Rp2.844.000 per gram.

Artinya, dalam rentang yang sangat pendek, masyarakat menyaksikan ayunan harga ratusan ribu rupiah per gram, sesuatu yang terasa “tidak normal” bagi pembeli ritel.

Mengapa bisa begitu? Karena emas ritel di Indonesia adalah hasil perkalian dari tiga hal: harga emas global, nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan struktur pasar ritel seperti spread jual-beli (buyback), biaya distribusi, serta penyesuaian harga yang tidak selalu real time di semua kanal.

Baca Juga  Rasio Utang Pemerintah Prabowo Subianto Atas PDB Tembus 62%

Media juga mencatat perbedaan harga lintas penjual, dari Antam hingga Pegadaian dan Hartadinata, yang menegaskan bahwa “harga emas lokal” bukan satu angka tunggal.

Di sinilah banyak orang keliru membaca arah.

Ketika emas dunia naik, tapi rupiah juga menguat, kenaikan dalam rupiah bisa tertahan. Sebaliknya, ketika emas dunia turun tipis, tetapi rupiah melemah, penurunan lokal bisa terasa tidak sedalam yang dibayangkan, atau bahkan terlihat naik.

Calon Ketua The Fed Baru: Mengapa Efeknya Bisa Secepat Itu?

Bagi publik, pergantian calon ketua bank sentral di Washington terdengar jauh. Namun bagi pasar, itu seperti mengganti pengemudi bus di jalan tol saat kecepatan sedang tinggi.

Penumpang akan spontan menegang, meski bus belum belok.

Kabar nominasi Kevin Warsh dikaitkan dengan perubahan ekspektasi: apakah The Fed akan lebih menekankan pengetatan, bagaimana sikap terhadap inflasi, dan seberapa cepat penurunan suku bunga akan terjadi.

Di beberapa analisis pasar, faktor inilah yang disebut ikut menyulut selloff dua hari sebelumnya, bersamaan dengan penguatan dolar yang menekan logam mulia.

Bahkan ketika analisis mengenai Warsh sendiri beragam, efek kebijakan sering bekerja lewat “saluran psikologi” terlebih dahulu. Pasar tidak menunggu kebijakan diterapkan.

Pasar menebak, lalu bereaksi terhadap tebakan kolektif itu. Dalam kerangka kebijakan publik, ini pelajaran penting: komunikasi dan kredibilitas sering sama berharganya dengan instrumen kebijakan itu sendiri.

Prediksi Sepanjang 2026: Tiga Skenario yang Masuk Akal

Untuk 2026, saya memilih memakai skenario.

Skenario pertama adalah rangebound yang lebar, alias bergerak dalam kisaran dengan volatilitas tinggi.

World Gold Council menilai outlook 2026 dibentuk oleh ketidakpastian geoekonomi dan harga bisa cenderung bergerak dalam rentang jika kondisi makro relatif sesuai konsensus.

Dalam skenario ini, emas akan tetap kuat sebagai diversifier, tetapi koreksi tajam bisa sering muncul karena perubahan ekspektasi suku bunga dan dolar.

Skenario kedua adalah bullish lanjutan, yaitu emas melanjutkan tren naik hingga level psikologis baru. Di pemberitaan pekan ini, ada proyeksi analis Deutsche Bank yang melihat peluang emas mencapai US$6.000, sementara Goldman Sachs disebut memproyeksikan sekitar US$5.400 pada Desember.

Ada pula proyeksi dari JPMorgan yang lebih agresif, disebut mengarah ke sekitar US$6.300 di akhir 2026 dalam laporan media Australia.

Jika skenario ini terjadi, pemicunya biasanya kombinasi dolar yang melemah, penurunan suku bunga lebih jelas, ketegangan geopolitik yang mendorong safe haven, dan pembelian bank sentral yang berlanjut.

Skenario ketiga adalah koreksi menengah yang menyakitkan tetapi tidak mematikan narasi emas. Bahkan dalam riset dan ringkasan analisis yang mengacu pada skenario WGC, disebutkan risiko penurunan 5 sampai 20 persen dalam skenario tertentu.

Artinya, meski cerita besar emas masih ada, jalannya bisa berliku. Koreksi semacam ini biasanya terjadi ketika inflasi terlihat jinak, suku bunga riil naik, dolar menguat, dan investor merasa tidak perlu lagi memegang payung.

Jika harus merumuskan prediksi yang bisa dipakai publik, maka sepanjang 2026 emas berpotensi tetap mahal relatif historis, tetapi dengan ayunan yang besar. Dengan kata lain, peluang dan risiko sama-sama naik.

Jangan Hanya Menatap Harga, Tatap Juga Penyebabnya

Bagi rumah tangga, pesan utamanya bukan menebak angka tertinggi, melainkan memahami bahwa volatilitas emas 2026 adalah produk dari ketidakpastian kebijakan dan psikologi pasar global.

Bagi pembuat kebijakan, pesan utamanya adalah menjaga stabilitas makro domestik, terutama nilai tukar dan kredibilitas kebijakan, agar guncangan eksternal tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi gejolak harga ritel yang membebani publik.

Emas boleh jadi payung. Tetapi payung terbaik bukan yang dibeli saat hujan sudah deras dan harga sudah melonjak.

Payung terbaik adalah yang dibeli ketika kita paham cuaca memang tidak menentu, lalu menyesuaikan pembelian dengan kemampuan dan tujuan, bukan dengan kepanikan.

Related Articles

Back to top button