AFTECH–Mandala Luncurkan White Paper, Dorong Kolaborasi Bank dan Pindar Perluas Akses Kredit

Sakawarta, Jakarta – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar” untuk mendorong perluasan akses kredit formal melalui kerja sama perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending.
Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto mengatakan stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan menunjukkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau masyarakat, terutama segmen underbanked.
Menurutnya, kolaborasi yang bertanggung jawab antara bank dan pindar menjadi penting untuk memperluas pembiayaan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting,” kata Firlie dalam peluncuran white paper di Jakarta, dikutip Minggu (15/2/2026).
Firlie menambahkan, tren kemitraan bank dan pindar terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar meningkat dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.
Peningkatan tersebut disebut mencerminkan bertambahnya kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan kebutuhan kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur.
Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi, mengatakan OJK menyambut baik inisiatif konkret yang mendorong kolaborasi perbankan dan industri pindar.
Ia menilai kerja sama lintas lembaga keuangan berpotensi memperluas akses pembiayaan alternatif bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, dengan tetap mengedepankan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan, dan perlindungan konsumen.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Ekonomi Syariah dan Badan Usaha Milik Negara Kementerian PPN/Bappenas Rosy Wediawaty. Ia menilai perluasan akses pembiayaan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk kolaborasi lembaga keuangan konvensional dan inovatif, dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
CEO Mandala Consulting Manggala Putra Santosa menilai peningkatan rasio kredit berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas. Namun ia mengakui tantangan akses kredit masih besar karena populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke sistem keuangan formal.
Mengacu data World Bank, sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih underbanked. Sedangkan data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70% pada 2025, sehingga sekitar 30% orang dewasa masih berada dalam kategori financially excluded.
Manggala juga menyebut rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih relatif rendah dan stagnan di kisaran 36,4% pada 2024–2025. Angka ini berada di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang mencapai 74,46% serta negara berpendapatan menengah bawah sebesar 62,72%.
Menurutnya, kesenjangan itu dipengaruhi ketatnya persyaratan kredit formal dan masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani lembaga keuangan konvensional.
White paper tersebut juga mencatat adanya pergeseran kanal pembiayaan di tengah penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75%. Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman besar, pindar menjadi kanal yang tumbuh paling cepat dengan pertumbuhan tahunan sekitar 34% pada periode 2019–2024.
Manggala menilai keunggulan pindar terletak pada fleksibilitas underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih cepat sehingga mampu menjangkau kelompok yang belum terbaca sistem penilaian risiko konvensional.
Studi tersebut juga mencatat porsi pendanaan perbankan terhadap industri pindar meningkat signifikan, dari 15% atau sekitar Rp1,5 triliun pada Januari 2021 menjadi 71% atau Rp46,6 triliun pada Januari 2025.
Dari sisi industri, Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash Nucky Poedjiardjo mengatakan percepatan peran pindar perlu diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan.
Ia menilai platform pindar yang kredibel telah memiliki kesiapan tersebut, dibuktikan dengan adanya kerja sama beberapa bank internasional di Indonesia dengan platform pindar.
“Artinya, pindar di Indonesia sudah memiliki tata kelola dan kapabilitas yang dipercaya oleh perbankan, bahkan di level internasional,” ujar Nucky.
Nucky menyebut kolaborasi bank dan pindar tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kredit, namun membuka ruang pembiayaan baru yang selama ini belum tergarap.
Ia menilai pindar dapat menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan, sehingga mendukung inklusi keuangan yang lebih merata dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh.







