Ekonomi

‎Arsjad Rasjid Puji Presiden Prabowo Perkuat Prinsip Politik Luar Negeri Bebas dan Aktif

‎‎Sakawarta, Jakarta – Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC) Arsjad Rasjid berpendapat, di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki modal strategis yang kuat melalui prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.‎‎

Menurut dia, peran itu semakin diperkuat oleh keterlibatan global Presiden Prabowo Subianto yang proaktif dalam membangun hubungan lintas kawasan, serta memperluas kemitraan melalui berbagai platform internasional. ‎‎

Arsjad menuturkan, posisi ini memberikan Indonesia fleksibilitas strategis dan kredibilitas yang kuat di tengah dunia yang kian terfragmentasi.

‎Namun demikian, posisi tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh atau diterima begitu saja.‎

Dalam konteks tersebut, lanjutnya, penting adanya kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha, serta eksekusi kebijakan yang konsisten untuk memastikan modal diplomatik dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang konkret.‎‎

Arsjad menekankan, pertumbuhan yang tangguh membutuhkan kebijakan dan modal.

Akan tetapi yang menentukan adalah penyelarasan visi, kepemimpinan, dan eksekusi yang konsisten. ‎‎

Arsjad menegaskan, melalui tiga pilar IBC, yakni certainty, capability, dan capital, pihaknya memastikan kepastian regulasi, kapasitas institusi, dan akses terhadap modal berkualitas agar peluang investasi benar-benar terwujud menjadi proyek nyata. ‎‎

“Kehadiran mitra internasional hari ini menunjukkan bahwa dunia siap bekerja lebih erat dengan Indonesia. Sekarang bukan waktunya hanya berbicara, melainkan saatnya menunjukkan bukti,” ujar Arsjad Rasjid dalam event Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Shangri-La Hotel, Jakarta, dikutip Rabu (4/2/2026).‎‎

Sebagai informasi, forum ekonomi tahunan ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor global, akademisi, serta organisasi internasional dari 53 negara untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika global.‎‎

Mengusung tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”, IES 2026 dirancang sebagai ruang dialog strategis sekaligus platform kolaborasi yang menjembatani arah kebijakan, kepentingan dunia usaha, dan peluang investasi.

Baca Juga  ‎Janji Prabowo Bangun 300 Ribu Jembatan, Ambisi Tanpa Kalkulasi

‎‎Dalam IES 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Premier Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg, serta Chairman of the Board of Trustees Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel membahas peran investasi sebagai pendorong pertumbuhan baru, termasuk peluang Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan. ‎‎

Para pemimpin ini menyoroti pentingnya penguatan industri bernilai tambah, percepatan infrastruktur, dan konektivitas regional–global agar investasi lebih cepat masuk dan proyek dapat dieksekusi. Mereka juga menekankan perlunya kerja sama lintas negara untuk memperkuat rantai nilai dan memastikan transformasi ekonomi berjalan lebih konsisten dan berdampak.‎‎

Pada hari pertama, IES 2026 menghadirkan rangkaian pembicara dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha nasional yang aktif terlibat dalam penyusunan arah kebijakan, antara lain Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa; Menteri Koordinator Infrastruktur dan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono; serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu.‎‎

Di sisi internasional, IES 2026 juga mendatangkan Menteri Perdagangan dan Promosi Ekspor Kanada (2015-2025), Mary Ng; Utusan Khusus Australia untuk ASEAN, Nicholas Moore; Chief Economist Asian Infrastructure Investment Bank, Erik Berglöf; serta Penasihat Danantara, Champan Taylor. Mereka berdialog bersama pemimpin industri dan investor global mengenai bagaimana mempercepat masuknya investasi, memperkuat eksekusi proyek, dan merampungkan reformasi struktural yang diperlukan agar peluang menjadi proyek nyata.‎‎

Diskusi membahas arah kebijakan ekonomi nasional, strategi menarik investasi jangka panjang, transformasi industri, penguatan daya saing global, pengembangan ekonomi hijau, serta pembangunan sumber daya manusia. Para pembicara menyoroti pentingnya reformasi struktural, transformasi digital, dan integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif dan produktif.‎‎

Forum ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai jangkar stabilitas ekonomi kawasan serta mitra penting dalam rantai nilai global, di tengah ketidakpastian ekonomi global, fragmentasi geopolitik, dan tekanan transformasi struktural.

Related Articles

Back to top button