Astra International (ASII) Catat Laba Bersih Rp32,8 Triliun Sepanjang 2025, Turun Sekitar 3 Persen

Sakawarta, Jakarta — Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII) Djony Bunarto Tjondro menyampaikan, laba bersih Grup pada 2025 mengalami penurunan, terutama akibat harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru.
Meski demikian, ia menegaskan kinerja Astra tetap resilien berkat kontribusi positif dari bisnis-bisnis lainnya.
“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Djony dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (1/3/2026).
Sepanjang 2025, pendapatan bersih konsolidasian Astra tercatat sebesar Rp323,4 triliun, turun 2% dibandingkan 2024 yang sebesar Rp328,5 triliun.
Laba bersih Grup mencapai Rp32,8 triliun, turun 3% dari Rp33,9 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara Laba bersih per saham juga menurun 3% menjadi Rp810.
“Penurunan kinerja terutama berasal dari turunnya kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru,” kata dia.
Namun, hal tersebut sebagian diimbangi oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan sepeda motor.
Adapun nilai aset bersih per saham naik 8% menjadi Rp5.692 per 31 Desember 2025. Sementara itu, kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan tercatat Rp7,2 triliun, turun dari Rp8,0 triliun pada akhir 2024.
Di sisi lain, utang bersih anak usaha jasa keuangan meningkat menjadi Rp64,9 triliun dari Rp60,2 triliun.
Djony mengatakan manajemen mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan April 2026. Jika digabungkan dengan dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, maka total dividen yang diusulkan untuk tahun buku 2025 mencapai Rp390 per saham, dengan rasio pembayaran dividen 48%.
Secara sektoral, divisi Otomotif & Mobilitas membukukan laba bersih Rp11,4 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan mobil nasional turun 7% menjadi 804.000 unit, namun pangsa pasar Astra tetap kuat di level 51%.
“Penjualan sepeda motor nasional naik 1% menjadi 6,4 juta unit dengan pangsa pasar Astra mencapai 78%,” katanya.
Divisi Jasa Keuangan mencatatkan kenaikan laba bersih 9% menjadi Rp9,0 triliun, didorong pertumbuhan pembiayaan konsumen. Nilai pembiayaan baru meningkat 5% menjadi Rp112,3 triliun.
Sementara itu, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi mengalami penurunan laba bersih 24% menjadi Rp9,1 triliun akibat turunnya kinerja jasa penambangan dan tekanan harga batu bara, meski bisnis emas diuntungkan kenaikan harga jual rata-rata hingga 40%.
Divisi Agribisnis mencatat kenaikan laba 28% menjadi Rp1,2 triliun, ditopang kenaikan harga CPO 11% dan peningkatan volume penjualan 13%. Divisi Infrastruktur, Teknologi Informasi, dan Properti juga mencatat pertumbuhan laba masing-masing 24%, 33%, dan 224%.
Di sisi aksi korporasi, Astra menyelesaikan program pembelian kembali saham (share buyback) tahap kedua pada 25 Februari 2026 dengan nilai Rp685 miliar, setelah sebelumnya menyelesaikan buyback senilai Rp2 triliun pada Januari 2026.
Ia berkata, manajemen ASII juga tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif atas portofolio bisnis yang ditargetkan rampung pada penghujung semester I 2026.
Ke depan, Djony menyatakan pihaknya memperkirakan sentimen konsumen akan membaik meskipun kondisi operasional pada sejumlah lini usaha masih menantang.
“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” ujarnya.







