Bisnis

Astra Raup Laba Rp12,53 Triliun di Semester I-2026, Sektor Otomotif dan Jasa Keuangan Jadi Penopang‎‎

Sakawarta, Jakarta – Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja yang beragam sepanjang semester pertama 2026. Di satu sisi, bisnis otomotif dan jasa keuangan masih menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan laba masing-masing 9 persen dan 6 persen. ‎Namun, pelemahan tajam pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat membuat laba bersih konsolidasian grup tergerus 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. ‎‎

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, laba bersih Astra mencapai Rp12,53 triliun, atau turun secara year on year (yoy) dari Rp15,52 triliun pada semester I 2025. Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga terkoreksi 3 persen menjadi Rp157,91 triliun dari sebelumnya Rp162,86 triliun.

Jika tidak memperhitungkan pos non-recurring items, laba bersih Astra tercatat Rp14,89 triliun atau turun 7 persen secara tahunan. ‎‎

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan peningkatan kontribusi dari bisnis otomotif dan jasa keuangan belum mampu menutup penurunan kinerja dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat yang terdampak pelemahan industri tambang.‎‎

“Pada semester pertama 2026, Grup Astra mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy dalam keterangannya dikutip Senin, 3 Agustus 2026.‎‎

Di tengah kondisi tersebut, Astra merombak arah strategi bisnis dengan memusatkan fokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.

‎‎”Perusahaan juga menerapkan kerangka alokasi modal yang lebih disiplin melalui pembagian dividen, program pembelian kembali saham (share buyback), dan penyelarasan kepentingan manajemen melalui Management Share Ownership Program (MSOP),” ujarnya.

‎‎Sebagai bagian dari strategi tersebut, Astra mengumumkan program buyback saham baru senilai hingga Rp8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan. ‎

Anak usahanya, PT United Tractors Tbk, juga meluncurkan program buyback hingga Rp2 triliun selama tiga bulan. ‎

Sebelumnya, sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026, Astra dan United Tractors telah menyelesaikan pembelian kembali saham dengan nilai total Rp7,4 triliun. ‎‎

Baca Juga  ASTRA Infra Sustainability Fest 2025, Ruang Kolaborasi Seni Inklusi untuk Bumi

Rudy menekankan, dari sisi kontribusi bisnis, segmen otomotif tetap menjadi penyumbang laba terbesar dengan nilai Rp5,91 triliun atau naik 9 persen. ‎

Kinerja tersebut ditopang meningkatnya penjualan mobil nasional sebesar 16 persen menjadi 437 ribu unit, sementara penjualan grup naik 10 persen dengan pangsa pasar mencapai 51 persen. ‎‎

Adapun penjualan sepeda motor Honda juga tumbuh 1 persen dengan pangsa pasar tetap dominan sebesar 77 persen. Selain itu, divisi komponen membukukan pertumbuhan laba bersih 23 persen menjadi Rp921 miliar. ‎‎

Rudy bilang, bisnis jasa keuangan juga mencatatkan pertumbuhan positif dengan laba bersih mencapai Rp4,65 triliun atau naik 6 persen. ‎‎

“Nilai pembiayaan baru meningkat 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, didorong oleh pembiayaan otomotif dan multi-cycle. Sementara itu, kontribusi laba perusahaan asuransi Astra naik 7 persen menjadi Rp906 miliar berkat peningkatan pendapatan operasional dan hasil investasi,” katanya.‎‎

Sebaliknya, bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengalami tekanan cukup dalam. Laba bersih segmen ini merosot 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat minimnya penjualan emas dari tambang Martabe, penurunan penjualan alat berat, hingga berkurangnya aktivitas jasa penambangan dan produksi batu bara.

Setelah memperhitungkan pos non-recurring items, laba bersih segmen tersebut bahkan anjlok 88 persen menjadi Rp607 miliar.

‎‎Astra menjelaskan, penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit, sementara penjualan batu bara milik sendiri turun 10 persen menjadi 6 juta ton.

‎Penjualan emas juga merosot tajam menjadi hanya 23 ribu ons dari 125 ribu ons pada periode yang sama tahun sebelumnya karena penghentian sementara operasional tambang Martabe pada awal tahun, meski kini telah kembali beroperasi sejak kuartal II-2026. ‎‎

Di sisi lain, segmen bisnis lainnya justru mencatat pertumbuhan laba 31 persen menjadi Rp1,63 triliun. Peningkatan tersebut ditopang oleh membaiknya bisnis agribisnis seiring kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit, serta kontribusi dari platform pergudangan industri yang baru diakuisisi pada bisnis properti.

‎‎”Menghadapi ketidakpastian ekonomi global, Astra menyatakan akan tetap berfokus menjalankan strategi korporasi barunya. Perseroan optimistis kekuatan operasional, neraca keuangan yang solid, serta disiplin dalam alokasi modal akan menjadi modal utama untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan imbal hasil bagi para pemegang saham,” katanya. []

Related Articles

Back to top button