Site icon sakawarta.com

Geliatkan Sektor Perumahan, SMF Bukukan Laba Bersih Rp565 Miliar, Total Aset 2025 Tembus Rp66 Triliun

Direksi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Morteza Syariati Albanna.

Sakawarta, Jakarta – Total aset PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) SMF hingga Desember 2025 tumbuh 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau saat ini tercatat sebesar Rp66,814 triliun.

‎”Laba bersih juga meningkat menjadi Rp565 miliar atau meningkat 5% dibandingkan Desember 2024,” kata Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Sepanjang tahun 2025, kata Ananta, Perseroan menyalurkan dana sebesar Rp20,88 triliun kepada lembaga penyalur pembiayaan perumahan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp17,01 triliun.

‎”Untuk mendukung penyaluran tersebut, total pendanaan yang diterima Perseroan sepanjang tahun 2025 mencapai Rp10,6 triliun,” ucap Ananta Wiyogo.

‎Ananta mengungkapkan, SMF mampu menjaga kinerja keuangan secara solid di tengah dinamika ekonomi dan perubahan kondisi likuiditas perbankan.

‎Dalam situasi yang sama, SMF terus memperkuat perannya sebagai liquidity provider dalam ekosistem pembiayaan perumahan nasional.

Capaian ini semakin diperkuat dengan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional dan domestik. SMF memperoleh peringkat BBB dari S&P Global, id(AAA) dari Pefindo, serta AAA(idn) dari Fitch Ratings.

‎“Peringkat tersebut mencerminkan kemauan dan kemampuan SMF dalam memenuhi kewajiban finansial secara tepat waktu, sekaligus menunjukkan dukungan kuat Pemerintah terhadap peran SMF sebagai alat fiskal dalam sektor pembiayaan perumahan,” tutur Ananta Wiyogo.

Direktur Bisnis SMF Heliantopo melanjutkan, dalam rangka pelaksanaan mandat sebagai fiscal tools dan mendukung Program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) Pemerintah yang merupakan program Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, SMF sejak tahun 2018 telah berperan aktif dengan menyediakan porsi pendanaan sebesar 25% atas penyaluran KPR FLPP.

Penyediaan porsi pendanaan tersebut dipenuhi dari Penyertaan Modal Negara (PMN) yang selanjutnya dioptimalkan melalui skema blended financing melalui penerbitan surat utang, guna memastikan keberlanjutan dan optimalisasi pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Hingga Desember 2025, SMF telah menyalurkan Rp34,37 triliun yang setara dengan 904.568 unit rumah. Penyaluran tersebut merupakan hasil optimalisasi Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan skema leveraging sebesar 1,9 kali melalui penerbitan surat utang senilai Rp17,94 triliun.

Ia menyampaikan bahwa peran SMF sebagai special mission vehicle Kementerian Keuangan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan perumahan nasional.

‎“Sebagai alat fiskal Pemerintah, SMF memastikan setiap PMN yang diterima dapat dimanfaatkan secara optimal melalui skema leverage yang prudent dan terukur. Hal ini menjadi bentuk tanggung jawab kami dalam mendukung akses dan keterjangkauan pembiayaan perumahan secara berkelanjutan,” ujar Ananta Wiyogo menambahkan.

Beberapa langkah strategis telah dilakukan SMF sepanjang tahun 2025 untuk mendukung sektor pembiayaan perumahan. Dari sisi pendanaan, SMF berhasil memperoleh peringkat internasional ‘BBB’ serta menjadi korporasi pertama yang surat utangnya eligible pada transaksi REPO Bank Indonesia. Selain itu, SMF juga menghadirkan produk-produk pembiayaan baru yang diharapkan dapat membantu mengurangi backlog kepemilikan rumah maupun meningkatkan kelayakan hunian, antara lain melalui program Griya Nusantara dan Griya Tunas (pembiayaan mikro).

Dalam mendukung Program Perumahan Nasional, khususnya pemenuhan Program Tiga Juta Rumah, SMF juga memperkuat akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terfasilitasi layanan pembiayaan formal, khususnya masyarakat berpenghasilan tidak tetap dan pekerja sektor informal.

Sepanjang tahun 2025, SMF bersama lembaga keuangan telah menyalurkan pembiayaan Griya Tunas yang merupakan kredit mikro perumahan sebanyak 52.142 rumah. Realisasi ini melampaui target Pemerintah sebesar 50.000 rumah yang memperoleh akses pembiayaan renovasi hunian.

‎“Dengan skema ini, masyarakat dapat melakukan renovasi atau perbaikan hunian agar menjadi lebih layak huni, sekaligus mendukung kegiatan produktif sebagai tempat usaha. Ini sekaligus membuka akses ke pembiayaan yang aman dan terjangkau, serta menjadi solusi konkret dalam mengatasi backlog kelayakan hunian di Indonesia,” ucap Heliantopo menerangkan.

‎Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF Bonai Subiakto menegaskan, pertumbuhan tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis SMF yang berbasis tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.

‎“Laporan Keuangan Tahun 2025 telah diaudit oleh Lembaga Audit Eksternal Independen dengan opini ‘wajar, dalam semua hal yang material’. Capaian ini menunjukkan komitmen Perseroan dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, serta pengelolaan risiko yang prudent di tengah dinamika ekonomi,” ujar Bonai.

Ke depan, tutur Bonai, SMF akan terus mengoptimalkan peran strategisnya melalui berbagai inisiatif. Langkah tersebut antara lain mencakup sosialisasi surat utang SMF sebagai underlying instrumen Repo Bank Indonesia guna memperkuat likuiditas pasar, optimalisasi peran SMF Research Institute (SRI) dalam mendukung kebijakan sektor perumahan, serta penyediaan dana jangka panjang melalui inovasi produk keuangan yang berkelanjutan.

“Pada tahun 2026, kami akan terus mengakselerasi peran strategis SMF dalam membangun sektor pembiayaan perumahan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, sejalan dengan program Pemerintah untuk memastikan akses hunian yang layak bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tutu Ananta Wiyogo.

Exit mobile version