
Sakawarta, Jakarta – Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan di tengah tekanan dormant economy dan melemahnya daya beli, muncul dinamika penting yang patut dicermati, yaitu optimisme konsumen terhadap kebijakan pemerintah dan prospek ekonomi Indonesia menunjukkan penguatan signifikan.
“Sinyal ini menjadi indikator awal bahwa pemulihan kepercayaan publik mulai terbentuk meski belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku belanja,” kata Yuswohady saat konferensi pers di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).
Yuswohady berkata, survei Inventure–Alvara 2025 mencatat bahwa 87% responden menyatakan kebijakan pemerintah khususnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meningkatkan rasa percaya diri mereka terhadap kondisi finansial ke depan.
Menurut Yuswohady, sentimen positif ini mencerminkan perubahan psikologis yang penting di tengah tekanan ekonomi berkepanjangan.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah adalah modal psikologis yang sangat kuat. Optimisme ini muncul lebih cepat dibanding pemulihan daya beli, sehingga konsumen merasa lebih percaya diri meski masih menahan belanja.
“Mereka tetap frugal, tetapi kini lebih yakin bahwa kondisi akan bergerak ke arah yang lebih baik,” ucapnya.
Ia menekankan, optimisme tersebut diperkuat oleh ekspektasi konsumen terhadap pertumbuhan nasional. Sebanyak 72% responden yakin ekonomi Indonesia akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sedangkan hanya 2% yang memprediksi penurunan.
“Data ini menandakan bahwa konsumen melihat peluang pemulihan, meski tekanan inflasi dan stagnasi pendapatan masih membatasi ruang konsumsi sehari-hari,” ujarnya.
CEO Alvara Research Center Hasannudin Ali menegaskan bahwa konsumen kini berada pada fase transisi antara kehati-hatian dan harapan. Ia menyebut bahwa optimisme makro sudah bergerak, tetapi optimisme mikro yang terkait langsung dengan kondisi dompet rumah tangga masih tertahan.
“Konsumen percaya ekonomi akan pulih, tetapi mereka tetap berperilaku frugal sampai perbaikan benar-benar terasa pada pendapatan dan harga kebutuhan,” tuturnya.
Menurut dia, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri. Sebab, kepercayaan terhadap arah kebijakan membuka ruang bagi pemulihan konsumsi.
“Namun, realisasinya sangat bergantung pada kecepatan pemerintah mengembalikan stabilitas harga, memperluas akses pembiayaan, serta memulihkan ekspektasi pendapatan masyarakat,” ucapnya.
“Dengan kata lain, struktur optimisme konsumen saat ini menunjukkan dua lapisan yaitu optimisme makro yang menguat, dan optimisme mikro yang masih tertahan oleh realitas ekonomi rumah tangga. Selama kesenjangan ini masih terjadi, perilaku frugal spending akan tetap mendominasi lanskap konsumsi Indonesia,” ujar dia memungkasi.







