Ekonomi

‎Melemahkan China dengan Membumihanguskan Iran: Siasat AS di Timur Tengah

‎‎*Opini: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta.

‎‎Sakawarta, Jakarta – Apakah Iran sasaran, atau China yang sebenarnya dibidik? Apakah eskalasi konflik di Iran benar-benar ditujukan untuk melumpuhkan Teheran atau justru merupakan langkah tidak langsung untuk menekan Beijing?

‎‎Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita melihat peta energi global, jalur perdagangan, serta rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin terbuka. ‎‎

Dalam politik global, sasaran yang tampak di permukaan sering kali bukan target sesungguhnya. Seperti dalam permainan catur, bidak yang diserang belum tentu raja yang ingin dijatuhkan.‎

Masalahnya terletak pada ketergantungan China terhadap energi Timur Tengah dan peran Iran sebagai simpul penting dalam arsitektur ekonomi Eurasia. ‎‎Sekitar 44 persen impor minyak mentah China berasal dari Timur Tengah.

Pada 2024 konsumsi minyak China mencapai kurang lebih 16 juta barel per hari. Dari jumlah itu, lebih dari 6 juta barel per hari dipasok dari kawasan Teluk. ‎‎Iran sendiri secara tidak resmi memasok lebih dari 1 juta barel per hari ke China, dan berbagai lembaga pelacak tanker memperkirakan lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran mengalir ke pasar China melalui skema rebranding dan jalur perdagangan tidak langsung.

‎‎Di sinilah rumusan masalahnya menjadi jelas. Jika jalur energi dan simpul logistik Iran dihantam, siapa yang paling terpukul selain Iran? Jawabannya adalah China. ‎‎

Gagasan utama tulisan ini sederhana. Eskalasi terhadap Iran tidak hanya tentang isu nuklir atau stabilitas regional. Ia dapat dibaca sebagai strategi untuk menekan fondasi material kebangkitan China.‎‎Energi sebagai “Urat Nadi Kebangkitan ‎Ekonomi Modern” ibarat tubuh manusia. Energi adalah darah yang mengalir di dalamnya. Jika aliran darah terganggu, tubuh akan lemah.

China memahami hal ini dengan sangat baik. ‎‎Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi China rata-rata berada di atas 6 persen per tahun sebelum pandemi. Walaupun kini melambat di kisaran 5 persen, mesin industri dan transportasinya tetap membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.‎‎

Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap hari, atau setara 17 hingga 20 juta barel. Gangguan di titik ini langsung berdampak pada harga global. ‎‎

Ketika konflik meningkat dan harga Brent melonjak dari kisaran 72 dolar per barel menjadi mendekati 80 dolar dalam waktu singkat, tekanan inflasi langsung terasa di negara pengimpor besar seperti China. ‎

Kenaikan 10 dolar per barel saja dapat meningkatkan biaya impor energi China miliaran dolar per tahun dan menekan margin industri manufakturnya.‎‎

Di sinilah Iran memainkan peran penting. Bagi China, Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga sumber minyak diskon akibat sanksi. Diskon 5 hingga 10 dolar per barel memberikan bantalan harga bagi kilang kilang independen China. Jika Iran dilemahkan secara ekstrem atau bahkan mengalami perubahan rezim yang pro Barat, akses diskon ini bisa hilang. China akan dipaksa kembali ke pasar terbuka dengan harga lebih mahal dan persaingan lebih ketat.‎‎

Analogi sederhananya seperti ini. Jika sebuah pabrik sangat bergantung pada satu jalur pasokan bahan baku murah, lalu jalur itu ditutup, maka biaya produksi naik dan daya saing menurun.

Serangan terhadap Iran berpotensi menutup jalur murah tersebut. ‎‎Iran sebagai “Simpul Jalur Darat Eurasia”‎ selain energi, Iran adalah simpul geostrategis dalam Belt and Road Initiative. ‎‎Perjanjian kerja sama komprehensif 25 tahun antara China dan Iran yang diteken pada 2021 mencakup investasi di sektor energi, infrastruktur, telekomunikasi, dan konektivitas. ‎‎

Iran berada di persimpangan Asia Tengah, Asia Barat, dan Eropa. Jalur rel dan pelabuhan di Iran memberi China alternatif rute darat yang mengurangi ketergantungan pada jalur laut yang rawan pengawasan Angkatan Laut Amerika Serikat.

‎‎Jika Iran dibumihanguskan secara ekonomi atau infrastruktur, maka koridor darat Eurasia yang dirancang China ikut terganggu. Artinya, strategi diversifikasi jalur perdagangan China menjadi rapuh. ‎‎

Baca Juga  Kebijakan Bank Indonesia Ikut Menurunkan Daya Beli

Seperti membangun jembatan penghubung antarpulau, jika salah satu tiang utama diruntuhkan, struktur keseluruhan menjadi tidak stabil.

‎‎Dalam konteks ini, Iran adalah tiang. China adalah arsitek besar yang ingin membangun jaringan perdagangan global yang tidak terlalu bergantung pada sistem keuangan dan keamanan Barat. Melemahkan Iran berarti menggoyang arsitektur tersebut.

‎‎Tekanan Tidak Langsung dalam Rivalitas Besar

‎‎Persaingan Amerika Serikat dan China bukan hanya tentang tarif atau teknologi semikonduktor. Ia adalah persaingan sistemik yang menyentuh keamanan, keuangan, dan persepsi global. ‎‎Amerika memiliki jaringan aliansi militer luas dan lebih dari 700 pangkalan di berbagai belahan dunia.

China tidak memiliki jaringan serupa di Timur Tengah. ‎‎Dengan meningkatkan tekanan di kawasan yang menjadi sumber energi utama China, Amerika dapat menciptakan dilema strategis bagi Beijing.

China harus memilih antara meningkatkan keterlibatan keamanan di luar kawasan tradisionalnya atau tetap mengandalkan diplomasi dan menanggung risiko gangguan pasokan.‎‎ Namun, strategi ini bukan tanpa risiko bagi Amerika. Konflik berkepanjangan dapat menguras anggaran dan perhatian Washington.

Anggaran pertahanan Amerika pada 2024 mencapai lebih dari 800 miliar dolar US. Tambahan komitmen di Timur Tengah bisa memperbesar beban fiskal, apalagi di tengah utang publik yang telah melampaui 34 triliun dolar. ‎‎Jika konflik meluas, harga energi global naik dan tekanan inflasi kembali muncul, ekonomi Amerika pun tidak kebal.‎

Di sinilah paradoksnya. Upaya melemahkan China melalui tekanan terhadap Iran bisa berubah menjadi bumerang jika Amerika terjebak dalam konflik panjang.

China dapat tampil sebagai pihak yang menyerukan stabilitas dan dialog, memperkuat citranya di mata negara negara Global South.‎‎

Dilema China dan Risiko Reputasi

‎‎China berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ia berkepentingan menjaga Iran tetap bertahan agar jalur energi dan konektivitasnya aman. Di sisi lain, China tidak ingin terlibat langsung secara militer atau terlihat memihak secara ekstrem.

‎‎Dalam konflik singkat sebelumnya, Beijing mengecam eskalasi tetapi tidak memberikan bantuan material yang signifikan. Sikap ini menunjukkan batas dukungan China.‎‎

Jika China terlalu pasif, negara mitra dapat meragukan komitmennya. Jika terlalu aktif, ia berisiko dituduh memanfaatkan kekacauan untuk kepentingan sendiri. ‎‎Reputasi sebagai kekuatan yang menghormati kedaulatan dan non intervensi menjadi taruhan.

Analogi yang tepat mungkin seperti pedagang besar di pasar yang ingin menjaga stabilitas harga. Ia tidak ingin kerusuhan karena akan merugikan semua pihak, tetapi ia juga tidak ingin terlihat sebagai provokator yang mengambil keuntungan dari kelangkaan.‎‎

Apa Makna bagi Indonesia dan Global South

Bagi Indonesia dan negara berkembang lain, dinamika ini bukan sekadar tontonan geopolitik. Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada subsidi energi dan stabilitas fiskal. Setiap kenaikan 1 dolar per barel dapat meningkatkan beban impor energi Indonesia ratusan juta dolar per tahun.

Jika konflik Iran memicu lonjakan harga global, APBN negara pengimpor akan tertekan.

‎‎Lebih jauh, rivalitas Amerika dan China di Timur Tengah menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi arena penting dalam kompetisi kekuatan besar. Negara-negara berkembang perlu membaca dinamika ini dengan cermat agar tidak terjebak dalam polarisasi.‎‎

Menjaga Rasionalitas di Tengah Eskalasi

‎‎Apakah membumihanguskan Iran akan otomatis melemahkan China? Tidak sesederhana itu. Namun, jelas bahwa Iran adalah bagian penting dari puzzle strategis Beijing.

Tekanan terhadap Iran berpotensi menekan China secara tidak langsung melalui energi, logistik, dan persepsi global.‎‎

Solusinya bukan pada eskalasi tanpa akhir. Dunia memerlukan stabilitas energi dan jalur perdagangan yang aman. Amerika perlu mempertimbangkan risiko overextension. China perlu mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat diplomasi multilateral.

Negara-negara Global South perlu mendorong deeskalasi dan reformasi tata kelola global yang lebih adil.‎‎

Pada akhirnya, pertarungan ini bukan hanya tentang Iran atau China. Ia tentang bagaimana kekuatan besar mengelola persaingan tanpa menghancurkan fondasi ekonomi global yang menopang semua pihak. ‎‎

Jika energi adalah darah ekonomi dunia, maka konflik yang memutus alirannya akan melemahkan seluruh tubuh, bukan hanya satu organ.‎‎ Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang diserang, tetapi siapa yang sesungguhnya ingin dilemahkan dan jawabannya menuntut kebijaksanaan, bukan sekadar kekuatan.‎

Related Articles

Back to top button