Bisnis

Pembangunan Giant Sea Wall Pantura Jawa Butuh Dana Rp1.680 Triliun

Sakawarta, Jakarta – Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mengestimasi pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara (Pantura) Jawa butuh anggaran mencapai US$ 80–100 miliar atau setara Rp1.680 triliun (asumsi kurs Rp 16.800 per dolar AS).

Kepala BOPPJ Didit H Ashaf mengungkapkan, pembiayaan proyek tersebut berasal dari kombinasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga investasi swasta. Kendati begitu, rincian pembagiannya masih disusun pemerintah.

“Oleh karena itu, di dalam pelaksanaan kegiatan pembangunannya, kita melihat bahwa ada investasi, ada yang dari APBN. Hitungan besarnya, US$ 80–100 miliar,” kata Didit kepada wartawan dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Rabu (25/2/2026).

Giant Sea Wall secara konsep dirancang membentang sepanjang 535 kilometer (km) dari Kabupaten Serang, Banten, hingga Kabupaten Gresik, Jawa Timur di mana akan melintasi 25 kabupaten dan lima kota.

Didit berkata, pembangunan GSW menjadi kebutuhan jangka panjang untuk mengantisipasi penurunan muka tanah (land subsidence) yang telah terjadi di sejumlah wilayah Pantura Jawa.

“Kita bukan bangun untuk 1–2 tahun, tapi untuk 100, 200, 300 tahun ke depan. Dengan kondisi seperti itu, ruginya atau mudaratnya kalau ini tidak terselesaikan akan mengakibatkan land subsidence dan terdampak ke penduduk di Pulau Jawa yang ke depan mungkin lebih banyak lagi populasinya,” ujar dia.

BOPPJ dalam pelaksanaan pembangunan GSW, membuka kemungkinan pembangunan dilakukan secara simultan di sejumlah kawasan prioritas, terutama Teluk Jakarta serta wilayah Kendal–Semarang–Demak di Jawa Tengah.

Baca Juga  BRIN: Semen Hijau SIG adalah Jawaban Atas Ancaman Perubahan Iklim Dunia

“Pelaksanaan kegiatannya ini bisa simultan antara Jakarta dengan Jawa Tengah. Jawa Tengah-nya itu mulai dari Kendal–Semarang–Demak, itu bisa bersamaan. Dengan kondisi seperti itu, maka kita bisa melakukan kegiatannya pada saat pelaksanaan groundbreaking bersama-sama,” jelas Didit.

Menurut dia, proses pembangunan masih membutuhkan penyusunan program serta penyesuaian berkelanjutan dalam pelaksanaan infrastruktur.

“Tapi tidak semudah itu (membangun Giant Sea Wall), karena saya harus melakukan kegiatan rencana program. Jadi ada dua program kegiatan. Karena kita harus ada continuous improvement adjustments di dalam pelaksanaan kegiatan infrastruktur,” ujar Didit.

Didit menegaskan tidak pernah memastikan waktu pasti dimulainya peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek strategis nasional (PSN) tersebut, meski pemerintah berupaya mempercepat realisasi pembangunan.

“Saya tidak pernah mengatakan bulan September (mulai groundbreaking), tidak pernah saya katakan seperti itu. Tapi saya berusaha untuk mempercepat infrastruktur itu dilakukan,” tutur Didit.

Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemprov Jakarta masih menunggu arahan dari pemerintah pusat terkait pembangunan proyek GSW di wilayah pesisir utara Jakarta. Namun, ia mengungkap target groundbreaking akan dilaksanakan pada September 2026.

“Nah tentang Giant Sea Wall, kami pemerintah Jakarta menunggu sepenuhnya arahan dari pemerintah pusat. Dahulu Jakarta ini kebagian 12 km, tetapi kemarin ditambahkan 7 km menjadi 19 km. Mau 12 km, mau 19 km, Jakarta akan mengerjakan. Namun, kapan dimulainya, rencananya groundbreaking-nya itu mulai bulan September tahun ini,” kata Pramono dalam acara groundbreaking entrance Stasiun MRT Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026) lalu.

Related Articles

Back to top button