Pemerintah: Pembangunan Giant Sea Wall Bisa Selamatkan Aset Rp6.182 Triliun di Pantura Jawa hingga Serap Lapangan Kerja

Sakawarta, Jakarta – Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf menjelaskan pentingnya pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) yang membentang sepanjang 535 kilometer (km) di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa, untuk melindung dari berbagai macam potensi kerugian.
Didit Herdiawan mengharapkan, pembangunan Giant Sea Wall bisa mengamankan aset di kawasan pesisir Pantura Jawa yang diestimasi memiliki nilai US$ 368 miliar atau setara Rp6.182 triliun (kurs Rp 16.800). Di sisi bersamaan, juga penting bagi 17-20 juta jiwa yang tinggal di lokasi tersebut.
Aset-aset dimaksud yang perlu mendapat perlindungan di antaranya gedung pemerintahan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), jalur rel kereta api, pabrik-pabrik, rumah sakit, hingga perkantoran swasta.
“Seluruh aset-aset nasional yang ada di Pantura Jawa ini lebih kurang sekitar US$ 368 miliar,” kata Didit dalam konferensi pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, dikutip Selasa (24/2/2026).
“Contoh misalnya instansi pemerintah, pabrik, KEK, railway, contoh di situ ada rumah sakit, kantor-kantor swasta atau pabrik-pabrik yang sudah berdiri dari mulai zaman Belanda,” ujar dia lagi.
Didit menerangkan, di sisi lain Giant Sea Wall juga bisa menjadi jawaban atas berbagai persoalan seperti penurunan muka tanah (Land Subsidence). Sebab, terjadi laju penurunan muka tanah di Pantura mencapai 1-20 cm per tahun.
Ia pun mengingatkan adanya risiko dan dampak bencana hidrometeorologi atau perubahan iklim yang berpengaruh terhadap kenaikan muka air laut, gelombang ekstrem dan banjir. Sehingga proyek ini bisa menjadi jawaban terhadap krisis air di Pantura Jawa.
Lalu, GSW juga diproyeksi mampu merevitalisasi perkotaan ataupun meningkatkan konektivitas transportasi hingga mengurangi kerentanan kawasan perkotaan seperti banjir, land subsidence, sanitasi.
Dengan pembangunan tanggul laut di Pantura Jawa, BOPPJ berharap mampu meningkatkan perekonomian nelayan. Sebab, proyek tersebut dipercaya dapat menciptakan peluang ekonomi baru dari nelayan tradisional menjadi nelayan modern.
Didit menambahkan, GSW diklaim mampu menjaga produksi pangan dengan cara meningkatkan perlindungan lahan pertanian dari intrusi air laut hingga menciptakan inovasi sektor modernisasi pertanian (irigasi dan diversifikasi komoditas menjadi lebih fleksibel).
“BOPPJ menilai GSW mampu meningkatkan sosial-ekonomi masyarakat, yaitu menurunkan angka pengangguran dan angka kemiskinan. Sebanyak 6,9 juta penduduk miskin di Pantura Jawa diharapkan akan terserap menjadi tenaga kerja,” katanya.
Diketahui, Giant Sea Wall disebut-sebut akan membentang 42,5 km di Provinsi Banten, 42,8 km di Jakarta, 104 km di Jawa Barat, 274,7 km di Jawa Tengah, dan 71,6 km di Jawa Timur. Dengan demikian, proyek itu akan melintasi lima wilayah kota dan 25 wilayah kabupaten di lima provinsi tersebut.







