Bisnis

Peran Shorebase Dalam Mendukung Kebutuhan Industri di Indonesia

Sakawarta, Jakarta – Bagi industri seperti minyak dan gas (migas), kelancaran aktivitas operasional tidak terlepas dari dukungan logistik yang andal dan terintegrasi. Berbagai material, peralatan, serta kebutuhan operasional perlu dikelola dan dimobilisasi secara tepat waktu untuk memastikan aktivitas di lokasi kerja dapat berjalan optimal.

Di tengah kebutuhan tersebut, shorebase menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok dan logistik industri migas yang dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi mobilisasi.

Secara sederhana, shorebase merupakan fasilitas pendukung logistik yang berada di darat dan terhubung dengan aktivitas operasional di wilayah perairan maupun lokasi kerja lepas pantai.

Shorebase umumnya terdiri dari area dermaga atau fasilitas pelabuhan, laydown area, gudang, area penyimpanan, serta fasilitas pendukung lainnya yang digunakan untuk menerima, menyimpan, menyiapkan, dan memobilisasi berbagai kebutuhan operasional.

Beberapa shorebase yang telah beroperasi di Indonesia tersebar di berbagai wilayah, antara lain Lamongan, Sampang, Penajam, Batam, dan Lhokseumawe. Sejumlah shorebase tersebut telah beroperasi selama bertahun-tahun dan memiliki pengalaman dalam mendukung berbagai kebutuhan industri migas, mulai dari eksplorasi, pengeboran, hingga kegiatan produksi.

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, shorebase juga mendukung berbagai aktivitas mulai dari berthing, cargo handling, hingga mobilisasi material dan peralatan menuju lokasi operasi.

Mengenal Shorebase dan Perannya dalam Industri Migas

Peran shorebase menjadi semakin penting dalam kegiatan migas yang berlangsung di wilayah lepas pantai (offshore). Berbagai tahapan kegiatan, mulai dari eksplorasi, pengeboran, pengembangan area, hingga produksi, membutuhkan dukungan logistik dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Sejumlah peralatan juga membutuhkan waktu pengadaan yang panjang sehingga memerlukan perencanaan supply chain yang matang.

Pada tahap eksplorasi dan pengeboran, misalnya, kebutuhan logistik dapat mencakup peralatan pengeboran, material pendukung, hingga berbagai perlengkapan yang diperlukan selama kegiatan berlangsung. Sementara pada tahap produksi, kebutuhan tersebut dapat berubah menjadi pengiriman rutin material, peralatan, maupun kebutuhan operasional lainnya untuk menunjang kegiatan di lapangan.

Kondisi tersebut membuat shorebase tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendukung, tetapi juga menjadi salah satu titik pengelolaan logistik dalam rangkaian kegiatan migas offshore. Keberadaan fasilitas ini membantu dalam mengakomodasi kebutuhan logistik yang berbeda pada setiap tahapan operasi, sesuai dengan jenis pekerjaan dan karakteristik lokasi yang dilayani.

Melihat Peran Shorebase di Indonesia

Baca Juga  Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Tebar Dividen Rp329,3 Miliar di Tengah Tantangan Industri Semen Domestik

Salah satu shorebase yang beroperasi di Indonesia adalah Eastkal Shorebase, yang berlokasi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. PT Pelabuhan Penajam Banua Taka (Eastkal) menyediakan layanan kepelabuhanan terintegrasi yang beroperasi 24 jam, meliputi berthing, cargo handling, storage, serta layanan pendukung lainnya. Layanan tersebut mencakup berbagai aktivitas kepelabuhanan yang berkaitan dengan pergerakan dan penanganan kebutuhan operasional.

Karakteristik kargo dalam kegiatan migas dapat berbeda-beda, baik dari ukuran, berat, dimensi, maupun tingkat kompleksitasnya. Kondisi tersebut membuat aspek operasional dan keselamatan menjadi bagian penting dalam proses penanganannya, termasuk kesiapan peralatan dan kompetensi tenaga kerja yang terlibat.

Di Eastkal, pengalaman penanganan kargo seperti Christmas Tree (X-Tree) dan riser menjadi salah satu gambaran dari kebutuhan tersebut, dengan kegiatan operasional yang didukung oleh peralatan serta tenaga kerja yang telah tersertifikasi migas.

Kebutuhan akan penanganan yang tepat juga diiringi dengan penerapan standar yang sesuai dalam kegiatan operasional. Aspek mutu, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, serta keamanan fasilitas menjadi bagian yang diperhatikan di Eastkal melalui penerapan ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, serta ISPS Code.

Selain standar tersebut, kegiatan operasional Eastkal juga didukung oleh berbagai perizinan yang mencakup aspek kepelabuhanan, logistik, lingkungan, hingga fasilitas pendukung operasional. Perizinan tersebut antara lain Badan Usaha Pelabuhan (BUP), Pusat Logistik Berikat (PLB), Izin Operasional Liquid Mud Plant (LMP), Kelayakan Lingkungan, serta perizinan bidang pengelolaan Limbah B3.

Keberadaan berbagai perizinan tersebut mencerminkan bahwa pengelolaan shorebase tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fasilitas, tetapi juga dengan pemenuhan berbagai ketentuan yang mendukung keberlangsungan operasional.

“Dalam kegiatan migas, shorebase punya peran yang cukup penting dalam rantai pasok dan juga memengaruhi kelancaran operasional di lapangan. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya fasilitas dan layanan yang tersedia, tetapi juga bagaimana seluruh kegiatan dijalankan dengan baik, aman, dan sesuai dengan perizinan serta standar yang berlaku,” ujar Chief of Operations Eastkal, Fatoni Tahar Hidayat dalam keterangannya dikutip Kamis, 3 September 2026.

Pengelolaan shorebase membutuhkan kesiapan yang menyeluruh. Selain memastikan fasilitas dan layanan tersedia, aspek operasional, keselamatan, serta kepatuhan terhadap perizinan dan standar yang berlaku juga menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara optimal.

Berbagai kebutuhan tersebut menunjukkan bagaimana shorebase menjadi bagian dari rangkaian logistik dalam kegiatan migas. Dari eksplorasi hingga produksi, setiap tahapan memiliki kebutuhan logistik yang berbeda, sementara shorebase menjadi salah satu titik yang menghubungkan berbagai kebutuhan di darat dengan aktivitas operasi di laut. []

Related Articles

Back to top button