Sakawarta, Jakarta – Meningkatnya curah hujan ekstrem dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memicu fenomena tanah bergerak dan longsor di berbagai wilayah Indonesia, khususnya pada kawasan dengan karakteristik gambut dan lempung. Jenis tanah ini memiliki daya dukung rendah serta rentan mengalami retak dan penurunan permukaan ketika kadar air meningkat.
”Penguatan fondasi menjadi krusial dalam pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap risiko iklim, terutama di wilayah dengan tanah lunak yang diperkirakan mencakup sekitar 10% dari total daratan Indonesia,” kata Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Rizki Kresno Edhie Hambali dalam keterangannya dikutip Selasa (10/3/2026).
Rizki Kresno berkata, Solusi Bangun Indonesia terus memperkuat perannya dalam pembangunan infrastruktur tangguh iklim melalui pengembangan solusi stabilisasi tanah (soil stabilization).
Ia menerangkan, inisiatif ini merupakan wujud kolaborasi strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation, Jepang, yang menghadirkan transfer teknologi dan pengalaman dari negara dengan tantangan geoteknik tinggi seperti di Negeri Sakura.
Lebih lanjut Rizki Kresno berujar, bersama dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) selaku induk usaha, Solusi Bangun Indonesia menandatangani perjanjian bisnis yang merupakan perluasan cakupan kerja sama strategis (strategic partnership).
”Telah terjalin sejak tahun 2021 antara Solusi Bangun Indonesia dengan Taiheiyo,” ucapnya.
Adapun penandatanganan dilakukan di Tokyo, Jepang, pada Januari 2026 antara lima entitas dari SIG Group dan Taiheiyo Cement Group, untuk mengakselerasi dan mengembangkan skala bisnis, yang diwakili oleh Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra, Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Rizki Kresno Edhie Hambali, Direktur Utama PT Mitra Kiara Indonesia Mirza Whibowo Soenarto, dengan President and Representative Director Taiheiyo Cement Corporation Yoshifumi Taura, dan Direktur Utama PT Taiheiyo International Indonesia Makoto Nakano.
Rizki Kresno menyampaikan bahwa ketahanan infrastruktur harus dimulai dari fondasi yang kuat dan adaptif terhadap dinamika lingkungan.
“Perubahan iklim menuntut pendekatan konstruksi yang lebih cermat sejak tahap perencanaan tanah dasar. Melalui inovasi solusi stabilisasi tanah, kami meningkatkan stabilitas struktural untuk ketahanan proyek dalam jangka panjang,” tutur Rizki Kresno.
Lebih lanjut Rizki Kresno mengungkapkan, karena lebih efisien dalam penggunaan material jika dibandingkan dengan metode konvensional seperti soil replacement dan vertical drain, solusi ini memungkinkan penggunaan tanah lunak yang tidak stabil di lokasi konstruksi, mempercepat waktu konstruksi secara signifikan, dan mengurangi penanganan tanah berlebih.
”Sehingga lebih berkelanjutan dan efisien dari sisi biaya,” tutur dia.
Ia melanjutkan, solusi stabilisasi tanah yang dikembangkan dalam kerangka kerja sama strategis ini memungkinkan peningkatan kuat geser dan daya dukung tanah lunak secara lebih efisien, sekaligus mengoptimalkan penggunaan material pengikat.
”Pendekatan rekayasa ini membantu meminimalkan risiko penurunan dan pergeseran tanah, memperpanjang umur layanan infrastruktur, menggunakan bahan ramah lingkungan yang mengurangi dampak lingkungan, serta menekan potensi biaya rehabilitasi akibat kerusakan struktural di masa depan,” katanya.
Selain memperkuat aspek teknis, solusi stabilisasi tanah turut mendukung pembangunan rendah emisi melalui penggunaan material yang lebih terukur dan efisien.
Dengan mengedepankan inovasi produk dan efisiensi material, Solusi Bangun Indonesia menghadirkan fondasi yang tidak sekadar menopang struktur, tetapi juga memperkuat daya tahan pembangunan Indonesia di tengah risiko perubahan iklim yang kian dinamis.
”Hal ini sejalan dengan komitmen Perseroan dalam mendukung agenda adaptasi perubahan iklim nasional sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah dengan karakter tanah lunak dan risiko curah hujan tinggi,” ujarnya.
Rizki Kresno berkata, solusi stabilisasi tanah ini salah satunya telah diterapkan pada Tol Semarang–Solo Seksi Penggarong, kawasan dengan karakter tanah lunak yang rentan mengalami penurunan.
Menurut dia, melalui rekayasa stabilisasi, fondasi jalan diperkuat sehingga lebih mampu menopang beban lalu lintas secara berkelanjutan dan meminimalkan risiko kerusakan struktural di masa mendatang.
Selain itu, solusi ini telah diaplikasikan di beberapa proyek di Kalimantan dengan karakter tanah lunak.
“Selain itu, ketahanan tinggi solusi stabilisasi tanah dari Solusi Bangun Indonesia juga telah diakui pada proyek konstruksi pergudangan, pusat perbelanjaan, dan fasilitas parkir di Cikarang dan Bekasi yang memiliki sebaran kondisi tanah lunak yang luas,” katanya.
