Sakawarta, Jakarta – Persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional menunjukkan kecenderungan yang kurang menggembirakan.
Hasil terbaru survei SUAR terbaru terkait dunia usaha pada 12 Juni 2026 hingga 1 Juli 2026, memperlihatkan mayoritas responden menilai perekonomian Indonesia tengah berada dalam situasi yang tidak baik, disertai kekhawatiran gejolak di pasar keuangan dapat memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas dunia usaha.
Sebanyak 42,4 persen responden yang melibatkan 33 pimpinan bisnis menyatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia buruk, sementara 39,4 persen lainnya menilai situasinya agak buruk.
Di sisi lain, hanya 9,1 persen yang memandang kondisi ekonomi baik, dengan persentase yang sama menyebut perekonomian agak baik.
“Temuan ini menunjukkan penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi jauh lebih dominan dibandingkan pandangan optimistis,” demikian keterangan survei SUAR, dikutip Rabu, 15 Juli 2026.
Kekhawatiran juga tercermin dalam penilaian terhadap stabilitas pasar keuangan.
SUAR mengungkap, sebagian besar responden atau 60,6 persen mengaku khawatir gejolak yang terjadi akan berdampak pada kondisi riil dunia usaha.
Selain itu, 30,3 persen menyatakan agak khawatir, sedangkan 6,1 persen merasa agak tidak khawatir.
“Hanya 3 persen yang menyebut tidak khawatir sama sekali,” katanya.
Survei tersebut turut mengidentifikasi faktor yang dianggap paling berkontribusi terhadap kondisi saat ini, seperti buruknya disiplin fiskal pemerintah menjadi penyebab utama menurut 42,4 persen responden.
Sementara itu, 24,2 persen lainnya menilai keluarnya modal asing dari pasar saham Indonesia sebagai faktor yang memperbesar tekanan terhadap perekonomian.
Mengenai langkah yang perlu ditempuh pemerintah, responden memberikan dua rekomendasi dengan porsi yang sama besar.
”Masing-masing 27,3 persen berpendapat pemerintah perlu mengetatkan belanja negara. Sedangkan jumlah yang identik mengusulkan penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya memperbaiki kondisi ekonomi dan menjaga stabilitas fiskal,” katanya.
Secara keseluruhan, hasil survei ini menggambarkan tingginya kekhawatiran publik terhadap arah perekonomian nasional.
“Penilaian negatif atas kondisi ekonomi, kecemasan terhadap dampak gejolak pasar keuangan, hingga dorongan agar pemerintah memperkuat pengelolaan fiskal menjadi sinyal penting yang mencerminkan ekspektasi masyarakat terhadap kebijakan ekonomi ke depan,” katanya. []
