Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi, Lebih Baik Beli atau Jual
*Opini: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta

Sakawarta, Jakarta – Pertanyaan ini terasa sederhana, tapi jawabannya tidak pernah hitam putih. Saat emas menembus level psikologis baru di pasar global dan ikut mengerek harga ritel di Indonesia, dilema publik wajar, apakah ini momen mengejar kereta yang sedang ngebut, atau justru saat paling masuk akal untuk turun di stasiun berikutnya?
Masalah intinya begini. Banyak orang memperlakukan “rekor” sebagai sinyal pasti untuk satu tindakan, seolah rekor berarti harus beli karena akan naik lagi, atau harus jual karena pasti turun.
Padahal rekor hanya menandai posisi hari ini, bukan kepastian besok. Gagasan saya: keputusan beli atau jual semestinya ditentukan oleh tujuan, horizon waktu, dan kemampuan menanggung risiko, bukan oleh euforia rekor semata.
Pasar seperti lift di gedung tinggi. Bayangkan harga emas itu lift yang sedang naik di gedung tinggi. Ketika layar menunjukkan “lantai tertinggi yang pernah dicapai”, orang bereaksi dua macam.
Ada yang panik dan menekan tombol keluar karena takut lift langsung turun. Ada juga yang buru buru masuk karena merasa lift akan terus naik tanpa henti.
Padahal, lift bisa berhenti sejenak, bisa naik lagi, bisa juga turun beberapa lantai sebelum melanjutkan.
Di titik tertinggi, yang paling mahal bukan hanya tiket masuk, tapi juga biaya salah langkah. Ini penting terutama untuk pembeli ritel, karena “biaya salah langkah” sering tersembunyi dalam selisih harga beli dan harga buyback.
Mengapa emas bisa meledak sampai rekor. Secara global, emas memang sedang berada di area yang secara historis jarang disentuh.
Reuters melaporkan spot gold menembus di atas USD 4.500 per troy ounce untuk pertama kali, didorong permintaan safe haven dan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Di layar pasar, angkanya terlihat nyata. Pada data live Kitco, emas berada sekitar USD 4.508,60 per ounce, dengan kisaran harian kurang lebih USD 4.484 sampai USD 4.525, dan ekuivalen sekitar USD 144,95 per gram.
Dari kacamata kebijakan publik, lonjakan seperti ini biasanya lahir dari gabungan ketidakpastian geopolitik, perubahan arah suku bunga global, dan perilaku institusi besar yang menumpuk aset lindung nilai.
Publik kemudian ikut merespons, sering kali bukan karena kebutuhan, melainkan karena rasa takut ketinggalan.
Di titik ini, emas berubah dari “alat pelindung nilai” menjadi “bahan obrolan”, dan di situlah risiko keputusan impulsif meningkat.
Rekor global bertemu realitas ritel Indonesia: spread itu nyata
Di Indonesia, publik tidak membeli spot gold. Publik membeli produk ritel seperti emas batangan Antam, UBS, Galeri24, atau perhiasan.
Di sinilah pertanyaan “beli atau jual” menjadi jauh lebih praktis: bukan hanya soal arah harga, tapi juga soal selisih beli dan jual kembali.
Per 24 Desember 2025 pukul pembaruan pagi, harga emas batangan Antam 1 gram di Logam Mulia tercatat Rp 2.590.000, dengan harga setelah PPh 0,25 persen menjadi Rp 2.596.475.
Namun, ketika Anda ingin menjual kembali, acuan yang sering dilihat adalah buyback.
Di halaman simulasi buyback Logam Mulia, tertulis harga buyback Rp 2.420.000 per gram, dengan waktu perubahan terakhir 23 Desember 2025 pagi.
Artinya, ada selisih sekitar Rp 170.000 per gram, kira kira 6,6 persen dari harga jual ritel.
Selisih ini seperti “tiket masuk dan tiket keluar” yang harus Anda bayar untuk ikut naik lift. Jadi, kalau Anda membeli hari ini lalu berharap untung cepat, Anda harus menutup gap itu dulu sebelum benar benar profit.
Inilah alasan mengapa keputusan emas tidak cocok memakai logika trading harian bagi kebanyakan rumah tangga.
Jadi, beli atau jual? Kuncinya: tujuan, bukan rekor
Kalau tujuan Anda adalah perlindungan nilai jangka panjang, misalnya menjaga daya beli tabungan dari ketidakpastian ekonomi, maka rekor bukan alasan otomatis untuk berhenti membeli, juga bukan alasan otomatis untuk mengejar harga.
Yang masuk akal adalah disiplin: membeli bertahap, menjaga porsi wajar di total aset, dan siap menerima bahwa harga bisa turun dulu sebelum naik lagi.
Dengan cara ini, Anda tidak bertaruh pada satu titik puncak.
Kalau tujuan Anda adalah spekulasi jangka pendek, rekor justru area paling berbahaya untuk “membeli karena takut ketinggalan”.
Di area rekor, sentimen mudah berbalik. Satu kabar tentang meredanya ketegangan geopolitik atau perubahan ekspektasi suku bunga bisa memicu koreksi cepat.
Dalam bahasa sederhana, Anda bisa saja membeli di lantai tertinggi tepat sebelum lift turun beberapa lantai.
Kalau Anda sudah punya emas dari harga jauh lebih rendah, rekor bisa menjadi momen rasional untuk merapikan portofolio.
Menjual sebagian untuk mengunci keuntungan sering lebih sehat daripada menunggu sampai euforia berakhir.
Bukan karena emas tidak akan naik lagi, tetapi karena kebijakan pribadi yang baik selalu memberi ruang napas: ada kas untuk kebutuhan, ada aset lindung nilai untuk ketidakpastian.
Rekor harga emas menguji kedewasaan keputusan
Rekor emas hari ini memberi dua pelajaran publik.
Pertama, emas memang masih dipercaya ketika dunia terasa rapuh, terlihat dari tembusnya level USD 4.500 per ounce yang disorot Reuters dan pergerakan live yang masih bertahan di sekitar USD 4.508 per ounce.
Kedua, di pasar ritel, keputusan tidak bisa hanya melihat “harga naik”. Anda harus menghitung realitas spread dan pajak, karena harga Antam 1 gram Rp 2.590.000 sementara buyback Rp 2.420.000 menunjukkan ada biaya keluar masuk yang tidak kecil.
Maka jawaban saya atas “beli atau jual” adalah begini.
Beli, jika tujuan Anda membangun perlindungan nilai secara bertahap dan Anda siap menahan fluktuasi, bukan mengejar untung cepat.
Jual, atau setidaknya jual sebagian, jika Anda sudah untung besar dan butuh menurunkan risiko, menambah likuiditas, atau menyeimbangkan kembali aset.
Rekor harga bukan kompas moral. Kompasnya tetap tujuan hidup, ketahanan keuangan, dan kedisiplinan. Emas pada akhirnya bukan lomba menebak puncak, melainkan cara menjaga kewarasan finansial saat dunia sedang tidak pasti.






