Tiga Puncak Otoritas Mundur dan Sinyal Kepercayaan Keuangan Indonesia Sedang Mundur
*Opini: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Sakawarta, Jakata – Apa arti stabilitas sistem keuangan jika dalam satu tarikan napas, dua pejabat puncak pengawas dan satu pucuk pengelola bursa memilih mundur?
Pada Jumat, 30 Januari 2026, Ketua OJK Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi mengumumkan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung langkah pemulihan.
Di hari yang sama, Direktur Utama BEI Iman Rachman juga menyatakan mundur, dikaitkan dengan gejolak pasar dua hari terakhir.
Bagi saya, rangkaian ini bukan sekadar pergantian kursi. Ini sinyal bahwa kepercayaan keuangan Indonesia sedang mundur.
Bukan karena kita pasti kolaps, tetapi karena pasar sedang membaca adanya gangguan serius pada kredibilitas tata kelola dan kemampuan respons institusi.
Ini Bukan Volatilitas, Ini Krisis Kredibilitas
Masalahnya bukan hanya indeks turun, lalu naik lagi. Masalahnya adalah pesan yang ditangkap pelaku pasar: ketika puncak pengawas dan operator bursa mundur bersamaan, publik akan bertanya apakah sistem sedang kehilangan kendali atau minimal sedang mengalami tekanan yang lebih besar dari yang disampaikan lewat konferensi pers.
Krisis kepercayaan punya pola yang khas. Ia dimulai dari keraguan kecil, lalu berubah menjadi perilaku defensif.
Investor tidak menunggu kesimpulan resmi. Mereka mengurangi paparan lebih dulu. Dalam situasi seperti ini, pernyataan “kegiatan tetap berjalan” sering kalah kuat dibanding sinyal “tanggung jawab moral” yang diikuti pengunduran diri. Pemicu ketegangan pasar juga tidak berdiri sendiri.
Dua hari sebelumnya, MSCI mengangkat isu “investability” Indonesia, menyoroti transparansi struktur kepemilikan dan kekhawatiran perilaku perdagangan yang mengganggu pembentukan harga, serta membuka kemungkinan peninjauan ulang hingga Mei 2026 jika tak ada perbaikan material.
Ketika indeks global mengeluarkan sinyal seperti ini, pasar membaca satu hal: ada risiko reputasi yang bisa berubah menjadi risiko arus dana.
Saat Penjaga Lampu Pergi, Kapal Makin Gelisah
Bayangkan sistem keuangan sebagai laut tempat kapal-kapal membawa tabungan publik, dana pensiun, investasi ritel, dan modal asing. OJK adalah mercusuar yang memastikan rute aman dan aturan ditaati.
BEI adalah pelabuhan tempat transaksi berlangsung dan harga terbentuk.
Saat ombak tinggi, pelaut tidak cukup diyakinkan dengan kalimat “mercusuar tetap berfungsi”.
Pelaut butuh bukti bahwa lampu menyala terang, peta diperbarui, dan jalur keluar badai jelas. Ketika penjaga mercusuar dan pengelola pelabuhan mundur bersamaan, kegelisahan wajar meningkat.
Karena yang dipertaruhkan bukan reputasi individu, melainkan keyakinan bahwa sistem punya komando yang tegas.
Mengapa Pasar Membaca Ini sebagai Kemunduran Kepercayaan
Kepercayaan pasar dibangun dari dua hal: transparansi dan penegakan. Jika transparansi kepemilikan dianggap kurang memadai, maka pembentukan harga diragukan.
Jika pembentukan harga diragukan, maka keputusan investasi berubah dari kalkulasi ke kehati hatian ekstrem.
Dalam laporan media internasional, gejolak terbaru bahkan disebut dipicu peringatan MSCI, disertai langkah langkah yang kemudian ditempuh pemerintah untuk menahan kepanikan, termasuk menaikkan batas investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi serta wacana menaikkan ketentuan free float.
Namun, stabilisasi jangka pendek tidak sama dengan pemulihan kepercayaan.
Menambah daya serap domestik bisa menahan jatuh, tetapi tidak otomatis menghapus sumber keraguan.
Kepercayaan hanya pulih jika pasar melihat perubahan aturan main yang konsisten dan bisa diverifikasi, terutama pada keterbukaan data kepemilikan, likuiditas yang sehat, dan tindakan pengawasan atas pola transaksi tidak wajar.
Solusi: Memulihkan Kepercayaan dengan Perubahan yang Terlihat
Pertama, reformasi transparansi harus menjadi agenda yang terukur. Jika pemerintah dan otoritas mendorong peningkatan free float, maka ia harus disertai tenggat, mekanisme audit, dan sanksi yang nyata terhadap kepatuhan kosmetik.
Kedua, integritas pembentukan harga harus diperkuat. Pengawasan atas transaksi tidak wajar, potensi koordinasi perdagangan, dan struktur kepemilikan yang menciptakan likuiditas semu harus tampak tegas.
Pasar memaafkan volatilitas, tetapi sulit memaafkan kecurigaan bahwa harga tidak terbentuk secara wajar.
Ketiga, transisi kepemimpinan harus cepat dan kredibel. Dalam krisis, kekosongan komando adalah bahan bakar ketidakpastian.
Pengganti harus datang dengan mandat pemulihan yang jelas, bukan sekadar melanjutkan rutinitas.
Kiamat Bila Sistem Ikut Mundur
Tiga pengunduran diri dalam waktu bersamaan adalah alarm.
Alarm ini tidak boleh dipadamkan dengan narasi bahwa semuanya baik baik saja, tetapi juga tidak perlu dibesar besarkan menjadi kepanikan nasional.
Yang dibutuhkan adalah respons kebijakan yang membuat publik melihat sistem bekerja lebih kuat setelah guncangan.
Jika Indonesia menjadikan momen ini sebagai titik balik reformasi transparansi dan integritas pasar, kepercayaan bisa kembali.
Tetapi jika yang terjadi hanya pergantian orang tanpa perbaikan cara kerja, maka pengunduran diri ini akan dikenang sebagai penanda bahwa kepercayaan keuangan Indonesia sempat mundur, dan kita terlambat menahannya.







