Ekonomi

CEO IBC Sofyan Djalil Dorong Dunia Usaha Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan

Sakawarta, Jakarta – Chief Executive Officer (CEO) Indonesian Business Council (IBC) Sofyan Djalil menekankan pentingnya peran dunia usaha dalam mendorong investasi berkualitas, peningkatan produktivitas, dan reformasi struktural guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

‎Menurut dia, event Indonesia Economic Summit (IES) 2026 mencerminkan komitmen dunia usaha untuk berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kompetitif secara global dan berkelanjutan.

‎”Forum ini dirancang sebagai katalis bagi investasi strategis, kemitraan lintas negara, dan kolaborasi berkelanjutan yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global,” ujar Sofyan dalam event IES di Shangri-La Hotel, Jakarta, dikutip Rabu (4/2/2026).

‎Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menambahkan, melalui rangkaian dialog strategis, jejaring global, dan platform aksi nyata, Indonesia Economic Summit 2026 diharapkan menjadi katalis bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus penguatan posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan dan investasi utama di kawasan.

‎Ia menekankan, Indonesia Economic Summit 2026 adalah momentum untuk menyatukan visi dan menyalakan aksi.

‎”Pertumbuhan harus diiringi dengan keadilan. Kemakmuran bersama (shared prosperity) masih merupakan tantangan yang harus dihadapi, namun tantangan ini harus terus kita hadapi bersama. Hanya melalui pertumbuhan yang inklusif, kebangkitan Indonesia dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” tutur Arsjad.

Sebagai informasi, forum ekonomi tahunan ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor global, akademisi, serta organisasi internasional dari 53 negara untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendorong transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika global.

‎Mengusung tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”, IES 2026 dirancang sebagai ruang dialog strategis sekaligus platform kolaborasi yang menjembatani arah kebijakan, kepentingan dunia usaha, dan peluang investasi.

‎Dalam IES 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Premier Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg, serta Chairman of the Board of Trustees Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel membahas peran investasi sebagai pendorong pertumbuhan baru, termasuk peluang Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Baca Juga  Bukan ke China, Erick Thohir Timba Ilmu untuk Bangun Pusat Keuangan IKN dari UEA

‎Para pemimpin ini menyoroti pentingnya penguatan industri bernilai tambah, percepatan infrastruktur, dan konektivitas regional–global agar investasi lebih cepat masuk dan proyek dapat dieksekusi. Mereka juga menekankan perlunya kerja sama lintas negara untuk memperkuat rantai nilai dan memastikan transformasi ekonomi berjalan lebih konsisten dan berdampak.

Pada hari pertama, IES 2026 menghadirkan rangkaian pembicara dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha nasional yang aktif terlibat dalam penyusunan arah kebijakan, antara lain Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa; Menteri Koordinator Infrastruktur dan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono; serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu.

‎Di sisi internasional, IES 2026 juga mendatangkan Menteri Perdagangan dan Promosi Ekspor Kanada (2015-2025), Mary Ng; Utusan Khusus Australia untuk ASEAN, Nicholas Moore; Chief Economist Asian Infrastructure Investment Bank, Erik Berglöf; serta Penasihat Danantara, Champan Taylor. Mereka berdialog bersama pemimpin industri dan investor global mengenai bagaimana mempercepat masuknya investasi, memperkuat eksekusi proyek, dan merampungkan reformasi struktural yang diperlukan agar peluang menjadi proyek nyata.

‎Diskusi membahas arah kebijakan ekonomi nasional, strategi menarik investasi jangka panjang, transformasi industri, penguatan daya saing global, pengembangan ekonomi hijau, serta pembangunan sumber daya manusia. Para pembicara menyoroti pentingnya reformasi struktural, transformasi digital, dan integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif dan produktif.

‎Forum ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai jangkar stabilitas ekonomi kawasan serta mitra penting dalam rantai nilai global, di tengah ketidakpastian ekonomi global, fragmentasi geopolitik, dan tekanan transformasi struktural.

Related Articles

Back to top button