Ekonom Sesalkan RI Kini Kalah Telak dengan Vietnam Dari Sisi Ekspor Produk Sampai Teknologi

Sakawarta, Jakarta – Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Andalas (Unand) Syafruddin Karimi menyesalkan, Indonesia kini kalah telak dengan Vietnam, bila dikaji dari sisi ekspor produk sampai menyangkut urusan teknologi.
Syafruddin menengarai ada problem pemimpin negara kurang kepercayaan diri ketika membangun fundamen ekonomi nasional.
“Kita mungkin kurang percaya diri ketika membangun ekonomi kita atas kekuatan sendiri,” kata Syafruddin dalam keterangannya dikutip Rabu (29/4/2026).
Ia mencurigai kedatangan pihak-pihak asing yang menawarkan proporsi utang-piutang justru membuat tergiur pihak penguasa.
“Mungkin kita lebih banyak mendengar advis konsultan asing yang menjanjikan akses utang,” ucapnya.
Oleh karena itu, Syafruddin yang mencermati ekonomi dan politik di Asia Tenggara, menilai saat ini Indonesia sudah kalah jauh dengan Vietnam dari berbagai sisi.
Semisal, kata Syafruddin, dalam ekspor produk pertanian pun Indonesia sudah berada di bawah Vietnam dan Thailand.
“Saya sering bandingkan kita dengan Vietnam. Untuk produk pertanian ke pasar Eropa, Vietnam bersaing dengan Thailand,” ujarnya.
Menurut Syafruddin, posisi Indonesia saat ini tidak lebih dari sekadar penonton. Sebab, terus tersalip oleh kemajuan Vietnam dan Thailand.
“Kita masih menonton mereka, bukan menyaingi mereka. Kini ranking kita di bawah Vietnam dalam ekspor kopi. Sebelumnya kita nomor 2 dunia. Dulu Vietnam hanya ekspor robusta, kini sudah ekspor arabika,” ujar dia.
“Kalau dalam pasar beras dunia, Vietnam lebih punya nama dibanding kita,” ucapnya menambahkan.
Perdana Menteri (PM) Vietnam, Pham Minh Chinh tercatat pernah melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Bogor pada tahun 2021.
Saat itu, Prabowo Subianto masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) RI.”Ketika PM Vietnam datang ke Indonesia, dia sebut mau bangun industri mobil di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Syafruddin, RI kini seakan kehilangan comparative advantage dan competitive advantage, hal yang teramat disesalkannya.
“Satu waktu Indonesia pernah dikenal produsen pesawat terbang. Kini ada di mana?” kata Syafruddin Karimi. []







