Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa Tantang Mahasiswa Mappi, Empat Tahun Harus Jadi Sarjana

Sakawarta, Jakarta – Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., meminta mahasiswa asal Kabupaten Mappi, Papua Selatan, tidak menutup diri selama menjalani pendidikan di Jakarta. Pada tahun ajaran 2026/2027 ini, setidaknya ada 100 mahasiswa ITPLN asal Mappi yang mendapatkan Program Beasiswa Seribu Sarjana dari Pemerintah Kabupaten Mappi.
Pemerintah Kabupaten Mappi akan menanggung setiap kebutuhan dasar mahasiswa dalam program tersebut seperti, uang kuliah, tempat tinggal, uang saku hingga laptop untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Pada Selasa, 18 Agustus 2026 kemarin, tim ITPLN kembali menjemput 25 mahasiswa asal Mappi di Bandara Soekarno-Hatta hingga tiba dengan selamat di kampus ITPLN.
Seluruh mahasiswa asal Mappi itu akan menjalani matrikulasi, pemilihan program studi, hingga pengenalan lingkungan dengan penduduk yang tinggal di dekat kampus sebelum masa perkuliahan dimulai pada September mendatang.
Dalam kesempatan itu, Prof. Iwa menekankan pentingnya belajar, bergaul, dan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai daerah sebagai bagian dari proses menjadi sumber daya manusia yang siap membangun Indonesia.
“Belajar nomor satu, pergaulan sangat penting. Adik-adik jangan eksklusif, jangan berkumpul sendiri-sendiri. Berbaurlah dengan semuanya,” ujar Iwa dalam keterangannya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Iwa, keberagaman mahasiswa ITPLN harus menjadi ruang belajar tentang persamaan dan perbedaan budaya. Perbedaan latar belakang, cara berpikir, maupun cara menyampaikan pendapat, kata dia, tidak boleh menjadi penghambat mahasiswa untuk berkembang.
“Persamaan dan perbedaan itu tidak boleh mengganggu adik-adik belajar dan tidak boleh menghambat adik-adik untuk lebih maju,” ujarnya.
Iwa berharap para mahasiswa Mappi tidak berhenti pada target memperoleh ijazah. Dalam empat tahun ke depan, mereka diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kemampuan akademik sekaligus jiwa kepemimpinan.
“Kami sebagai pimpinan berharap suatu saat ada di antara semua yang menjadi pemimpin bangsa ini, bukan hanya pemimpin Mappi, tetapi pemimpin Indonesia,” kata dia.
Ia juga mengajak mahasiswa membangun kebiasaan menghadapi persoalan sejak berada di bangku kuliah. Kesulitan memahami pelajaran, misalnya, tidak boleh langsung dianggap sebagai kegagalan. Mahasiswa harus mau mengulang, bertanya, dan belajar bersama.
“Saya dulu juga demikian. Saya bukan orang pintar, tapi saya mau belajar. Kalau kita saling membantu, yang pintar-pintar itu sebetulnya semua pintar,” tutur Iwa.
Sebelumnya, Bupati Mappi, Kristosimus Yohanes Agawemu langsung menitipkan putra-putri daerah tersebut kepada seluruh elemen kampus—mulai dari Rektor, Dekan, dosen, hingga sesama mahasiswa—agar dirangkul dan diberikan pencerahan pendidikan secara optimal.
“Sebagai catatan krusial, kami juga tidak segan memberikan warning yang sangat tegas kepada anak-anak Mappi, kami tidak akan menoleransi pelanggaran atau perilaku buruk apa pun dari para mahasiswa penerima beasiswa Seribu Sarjana ini,” kata Kristosimus.
Sementara itu, Wakil Rektor II ITPLN Bidang Sumber Daya, Heryawan, S.E., S.H., M.H., M.Ak., mengatakan program beasiswa tersebut merupakan langkah penting untuk membangun kualitas sumber daya manusia Mappi.
Ia mengaku memiliki kedekatan dengan Papua karena pernah bertugas selama dua tahun di sejumlah wilayah di provinsi tersebut. Karena itu, ia meminta mahasiswa memanfaatkan kesempatan belajar di ITPLN untuk mempersiapkan kemandirian, baik secara ekonomi maupun profesional.
Heryawan juga meminta mahasiswa aktif berorganisasi dan berolahraga agar lebih cepat berbaur dengan mahasiswa lain. Menurut dia, rasa takut dan cemas ketika berada jauh dari daerah asal merupakan hal yang wajar, tetapi harus dikalahkan dengan kepercayaan diri.
“Lawan kita itu diri kita sendiri. Kita harus bisa mengatakan, saya harus jadi ini, saya harus bisa. Insyaallah kalau itu bisa dikalahkan, kita menjadi percaya diri dan bisa bekerja di mana saja,” ujarnya.
Wakil Rektor III ITPLN Bidang Kemahasiswaan, Purnomo, ST., MT., menambahkan, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan prestasi akademik. Kemampuan berorganisasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan berinteraksi dengan masyarakat juga akan menjadi bekal penting setelah lulus.
ITPLN, kata dia, akan menyiapkan berbagai kegiatan untuk memperkuat kompetensi akademik dan nonakademik mahasiswa Mappi.
Purnomo mengatakan mahasiswa Mappi juga akan diarahkan mengikuti kegiatan kampus dan berbaur dengan masyarakat di lingkungan tempat mereka menjalani pendidikan. Termasuk kegiatan sosial dan kerja bakti. Selain itu, ITPLN akan menyiapkan program akademik khusus sesuai kebutuhan mahasiswa serta membuka peluang kerja sama dengan industri.
“Kami berharap sebagian teman-teman nanti kembali ke Papua untuk membangun Mappi, tetapi boleh juga bekerja di luar Papua dan menjadi diaspora Mappi,” katanya.
Wakil Rektor IV ITPLN Bidang Pengembangan Usaha Strategis, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, MM. IPU ASEAN Eng. QRGP menyebut kampus sebagai tempat untuk mengubah masa depan mahasiswa, keluarga, Papua, dan Indonesia.
Ia mencontohkan sejumlah putra Papua yang mampu meniti karier hingga menduduki posisi penting di lingkungan PLN. Menurut Ahsin, perjalanan tersebut membuktikan latar belakang daerah bukan penghalang untuk mencapai posisi terbaik.
Ahsin meminta mahasiswa tidak mudah menyerah dan mampu bekerja sama tanpa membeda-bedakan latar belakang. Ia juga menegaskan mahasiswa Mappi dapat menjadikan pimpinan dan sivitas akademika ITPLN sebagai tempat meminta bantuan ketika menghadapi persoalan selama kuliah.
“Kalau ada kesulitan, telepon kami. Yang boleh ke rumah hanya berita bahagia. Yang sedih-sedih kita selesaikan di sini,” ujar Ahsin.
Para pimpinan ITPLN berharap Program Beasiswa Seribu Sarjana tidak sekadar menghasilkan lulusan baru, tetapi melahirkan generasi Mappi yang mandiri, percaya diri, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat nasional.
Target akhirnya bukan hanya membawa pulang gelar sarjana, melainkan membawa pulang kemampuan dan pengalaman untuk ikut membangun Mappi serta memberi kontribusi bagi Indonesia. []







