Site icon sakawarta.com

Gejolak Politik RI Hambat Aliran Modal Investor Global dan Bikin Rupiah Loyo

Guru Besar Ekonomi Unand Prof Syafruddin Karimi. Foto: ist.

Sakawarta.com, Jakarta – Guru Besar Departemen Ekonomi Universitas Andalas (Unand) Prof. Dr. Syafruddin Karimi mengatakan Indonesia berpotensi kehilangan momentum untuk merasakan dampak positif dari perbaikan ekonomi global jika gejolak politik domestik terus berlangsung.

Syafruddin merespons pertanyaan jurnalis mengenai ketidakkondusifan pasar keuangan nasional ekses dari aksi unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa hari ini belakangan ini di beberapa daerah, utamanya di Jakarta.

Menurut dia, ketika Amerika Serikat (AS) dan Eropa mulai memberi sinyal stabilisasi pertumbuhan, serta harga komoditas dunia menunjukkan tren pemulihan, semestinya Indonesia berada pada posisi strategis untuk menarik investasi dan memperkuat ekspor.

“Gejolak politik yang diwarnai aksi massa dan ketidakpastian kebijakan justru mengaburkan peluang tersebut,” kata Syafruddin dalam keterangannya Jumat (29/8/2025).

Dengan demikian, lanjutnya, investor global akan menilai risiko domestik lebih tinggi, sehingga aliran modal yang seharusnya masuk bisa terhambat. Hingga Jumat pukul 14.00 WIB, terpantau nilai tukar 1US$ = Rp16.492.

“Tekanan itu sudah terlihat pagi ini melalui pelemahan rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” ujarnya.

Syafruddin berpendapat, faktor Rupiah yang melemah menambah beban impor dan meningkatkan risiko inflasi, sementara IHSG yang tertekan mencerminkan turunnya kepercayaan pasar modal terhadap stabilitas nasional.

Ia mengatakan kondisi ini memperlihatkan bagaimana politik dalam negeri bisa menutup jalan bagi Indonesia untuk menikmati manfaat dari lingkungan global yang sebenarnya lebih kondusif.

Dengan demikian, jika situasi politik segera terkendali, Indonesia masih berpeluang memulihkan kepercayaan investor, menjaga kestabilan kurs, dan mengembalikan arah pasar saham.

“Dengan kepemimpinan yang tegas dan komunikasi publik yang konsisten, Indonesia dapat memastikan sinyal positif global benar-benar diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi perekonomian nasional,” kata Syafruddin.

Exit mobile version