Sakawarta, Jakarta – Ekonom dari Universitas Andalas (Unand) Prof. Syafruddin Karimi menanggapi kabar Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono masuk radar calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada Kamis (15/1/2026) lalu.
Beredar juga isu, Juda Agung digadang-gadang menjadi calon Wamenkeu.
Syafruddin menekankan, isu pertukaran posisi antara Juda Agung dengan Thomas Djiwandono di Kemenkeu–BI sangat beririsan dengan politik.
”Pencalonan figur yang beririsan politik menuntut pemerintah, DPR, dan BI membuktikan satu hal, mereka menjaga kredibilitas bank sentral lewat praktik, bukan lewat klaim,” kata Syafruddin dalam keterangannya dikutip Selasa (20/1/2026).
Menurut dia, pasar akan membaca independensi dari keputusan suku bunga, operasi likuiditas, stabilisasi rupiah, dan konsistensi komunikasi kebijakan.
Di sisi bersamaan, lanjutnya, pasar juga membaca independensi dari proses seleksi yang transparan, berbasis merit, dan bebas konflik kepentingan.
”Karena itu, DPR perlu menguji calon Deputi Gubernur BI dengan standar profesional yang ketat, pemerintah perlu menahan diri dari segala sinyal yang dapat ditafsirkan sebagai arahan politik, dan BI perlu mempertegas pagar etik serta akuntabilitas publiknya,” tutur Syafruddin.
Ia menekankan, apabila semua pihak menjalankan disiplin itu, maka Indonesia telah memperkuat jangkar stabilitas moneter dan menurunkan premi risiko.
”Bila tidak, Indonesia sendiri yang mengundang volatilitas dengan merusak aset paling mahal dalam ekonomi modern yakni kepercayaan,” tuturnya.
Syafruddin Karimi Kritisi Kabar Thomas Djiwandono Jadi Deputi Bank Indonesia, Juda Agung Calon Wamenkeu

Guru Besar Ekonomi Unand Prof Syafruddin Karimi. Foto: ist.