Misbakhun: Figur Thomas Djiwandono yang Pantas Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia

Sakawarta, Jakarta – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono layak menjadi kandidat terkuat sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada Kamis (15/1/2026).
Misbakhun mengungkapkan, terdapat tiga nama yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto untuk mengikuti fit and proper test sebagai calon Deputi Gubernur BI pada pekan ini, yaitu:
1. Thomas Jiwandono, menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan RI.
2. Dicky Kartikoyono, menjabat Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI.
3. Solikin M. Juhro, menjabat sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia.
Politikus Partai Golkar itu berpendapat, masuknya nama Thomas Djiwandono yang juga merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto ke dalam bursa calon Deputi Gubernur BI, tidak akan mengganggu independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral.
”Apa yang berkaitan dengan independensi? Jangan sampai kemudian urusan-urusan yang sifatnya insinuatif (menuduh/menyindir) seperti itu kemudian dijadikan isu untuk mendegradasi (meragukan) soal kemampuan Pak Tommy sendiri. Pak Tommy orang yang mempunyai kompetensi, latar belakang pendidikannya memadai,” ujar Misbakhun kepada wartawan di Gedung Parlemen, Jakarta, dikutip Selasa (20/1/2026).
Misbakhun memastikan, Thomas Djiwandono memiliki kompetensi dan latar belakang akademik yang memadai, serta pengalaman birokrasi yang kuat, termasuk pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Lalu, juga memiliki rekam jejak yang baik di dunia usaha.
Kemudian, menurutnya hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meragukan kapabilitasnya sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Bahkan, latar belakang keluarga Thomas justru menunjukkan kedekatan dengan dunia kebijakan moneter.
”Orang tua beliau juga pernah menjadi Deputi, menjadi Gubernur Bank Indonesia dan sebagainya. Apa yang diragukan? Kalau hubungan dengan Pak Presiden itu kan jangan kemudian dijadikan alasan,” ujarnya.
Misbakhun menjelaskan, proses seleksi Deputi Gubernur BI akan dilakukan secara terbuka melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), sehingga publik juga dapat menilai secara objektif kemampuan dan integritas para calon.
“Fit and proper test itu terbuka. Publik juga bisa menilai kemampuan, kapasitas, dan integritasnya. Kalau saya menilai, Pak Tommy punya kemampuan akademik, pengalaman birokrasi, dan secara pribadi beliau sosok yang humble dan rendah hati, dan menurut saya figur yang juga pantas untuk menjadi deputi Gubernur Bank Indonesia,” ujarnya.
Kendati begitu, Misbakhun menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Komisi XI DPR RI.
Ia menyebut, pengisian jabatan Deputi Gubernur BI merupakan keputusan politik yang akan ditentukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat.
“Saya kenal ketiga calon. Nanti kita rapatkan di Komisi XI, keputusan politiknya akan seperti apa. Prinsipnya musyawarah untuk mufakat dalam rangka mencari kesepakatan,” kata Misbakhun.







