Ekonomi

Pelemahan Dolar Tak Berlaku Universal, Rupiah Masih Diuji Risiko Domestik

Sakawarta, Jakarta – Ekonom Universitas Andalas (Unand) Prof. Syafruddin Karimi menegaskan bahwa pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global tidak serta-merta berdampak positif bagi nilai tukar rupiah.

‎Menurut dia, pergerakan kurs global saat ini menunjukkan pasar tengah memilah risiko masing-masing negara, bukan menerapkan satu sentimen yang berlaku universal.

‎“Dolar memang melemah terhadap sejumlah mata uang G10 seperti yen dan euro, serta beberapa mata uang komoditas. Namun di saat yang sama, dolar justru masih menguat terhadap sebagian mata uang emerging market seperti rupee, dan pergerakannya relatif datar terhadap yuan,” kata Syafruddin dalam keterangannya, dikutip Kamis (22/1/2026).

‎Kondisi tersebut, lanjut dia, menegaskan bahwa narasi “dolar melemah” tidak bekerja otomatis untuk semua mata uang, termasuk rupiah.

‎Menurut dia, pasar global saat ini lebih selektif dengan menimbang risiko domestik masing-masing negara.

‎Syafruddin menjelaskan, rupiah hanya berpeluang menguat secara berkelanjutan apabila Indonesia mampu menurunkan premi risiko melalui kebijakan yang kredibel.

‎Adapun faktor utama yang menjadi perhatian pasar antara lain disiplin fiskal yang terjaga, kepastian tata kelola moneter yang terlihat jelas, serta pengelolaan permintaan valuta asing domestik yang rapi.

‎“Jika ketidakpastian kebijakan dibiarkan membesar dan persepsi terhadap institusi ekonomi melemah, rupiah akan tetap tertinggal meskipun dolar AS melemah terhadap mata uang lain,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, stabilitas nilai tukar saat ini tidak cukup hanya bergantung pada faktor eksternal global, tetapi sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan dan kredibilitas pengelolaan ekonomi di dalam negeri.

‎Menurut Syafruddin, sinyal kebijakan yang jelas dan disiplin menjadi kunci agar rupiah dapat kembali memperoleh kepercayaan pasar di tengah dinamika global yang semakin selektif terhadap risiko.

Related Articles

Back to top button