Peluncuran Indonesia City Investment Accelerator di IES 2026, Jawab Tantangan Investasi Kota Berkelanjutan

Sakawarta, Jakarta — Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) resmi diluncurkan dalam rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta pada Selasa (3/2/2026), untuk mempercepat kesiapan investasi kota.
Chief Operating Officer Indonesian Business Council sekaligus salah satu inisiator ICIA William P. Sabandar mengatakan urgensi inisiatif ini jelas. Laporan PBB pada akhir 2025 mencatat kawasan urban Jakarta dan sekitarnya telah menjadi kawasan perkotaan terpadat di dunia dengan hampir 42 juta penduduk.
“Menggeser Tokyo, sekaligus mencerminkan pesatnya pertumbuhan kota-kota lain di Indonesia dan meningkatnya kebutuhan investasi perkotaan secara nasional,” kata William P. Sabandar dalam keterangan resmi dikutip Kamis (5/2/2026).
Adapun kota-kota di Indonesia menghadapi keterbatasan serius dalam pembiayaan investasi. Sebab, anggaran daerah masih didominasi transfer pusat sebesar 70–80% yang bersifat terikat.
“Sementara pendapatan asli daerah (PAD) umumnya kurang dari 10% dan hampir seluruhnya terserap untuk belanja operasional,” ujarnya.
Di sisi lain, meskipun pinjaman daerah dan obligasi secara hukum dimungkinkan, namun praktiknya terhambat oleh persetujuan berlapis, batas utang yang ketat, serta lemahnya basis aset daerah untuk mendukung pembiayaan.
William menekankan, keterbatasan fiskal ini diperparah oleh rendahnya kesiapan proyek dan kapasitas teknis di tingkat kota.
“Banyak proyek belum didukung struktur pembiayaan, penilaian risiko, dan kesiapan kelembagaan yang memadai sehingga sulit menarik investasi meskipun kebutuhan dan minat modal tersedia,” tuturnya.
Menurut dia, dalam konteks inilah Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) dibutuhkan sebagai pengungkit untuk memperkuat kesiapan proyek dan membuka jalur investasi perkotaan yang lebih kredibel.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang turut menyaksikan peluncuran ICIA mengatakan pertumbuhan ekonomi Jakarta mencerminkan bukan hanya angka, tetapi ketahanan. Mempertahankan daya saing di tengah banjir, kemacetan, dan tekanan urban membutuhkan tata kelola yang kuat dan koordinasi yang konstan, menjadi realitas mengelola sebuah kota global.
William P. Sabandar menegaskan bahwa tantangan utama investasi perkotaan terletak pada eksekusi.
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan rencana maupun minat modal, dan kota-kota pada dasarnya mengetahui apa yang ingin dibangun.
“Namun, banyak proyek prioritas masih tersendat di antara tahap perencanaan, persetujuan, dan pembiayaan, sehingga belum bertransformasi menjadi proyek yang benar-benar siap investasi,” ucapnya.
Dalam rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Indonesia City ICIA resmi diluncurkan oleh para inisiator yang terdiri dari Dekan Cities and Local Governments Institute (CLGI) Asia-Pasifik Bambang Susantono, Deputi Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin.
Lalu, Chief Executive Officer Indonesian Business Council Sofyan Djalil, Chief Operating Officer Indonesian Business Council William Sabandar, serta Deputi Bidang Infrastruktur dan Fasilitas Otorita Ibu Kota Nusantara periode 2023–2024 Silvia Halim. Peluncuran ICIA ini turut disaksikan juga oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim.
Menurut William, ICIA akan menjadi wadah yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, investor, lembaga pembiayaan, serta pemangku kepentingan perkotaan lainnya sebagai komitmen bersama untuk memperkuat kesiapan investasi kota melalui kolaborasi lintas perspektif.
“Peluncuran ICIA di IES 2026 menjadi titik awal penguatan ekosistem investasi perkotaan, sekaligus menandai pergeseran fokus dari perencanaan menuju aksi nyata dalam menjawab tantangan investasi perkotaan yang berkelanjutan,” katanya.







