Hot News

‎Prof. Yudi Latif di Seminar YRM, Tekankan Penguatan Nilai Dasar Pendidikan Era Digital dan AI

Sakawarta, Jakarta – Meningkatnya penetrasi kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai sektor kehidupan turut memunculkan kekhawatiran mengenai arah pendidikan Indonesia ke depan.

‎Menyoroti tren tersebut, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Prof. Yudi Latif, menegaskan bahwa penguatan fondasi nilai dan kemampuan dasar manusia menjadi kunci agar dunia pendidikan tidak kehilangan orientasi di tengah gelombang disrupsi digital.

‎Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber acara Seminar Nasional “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI” yang di inisiasi oleh Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

‎“Kita harus memperkuat aspek-aspek konstan dalam pendidikan. AI boleh berkembang, tetapi kemampuan dasar manusialah yang menentukan apakah teknologi itu membawa manfaat atau tidak,” ujarnya.

‎Ia menegaskan bahwa pengetahuan dan peradaban masa lalu tetap relevan, karena pendidikan bersandar pada nilai-nilai yang tidak berubah oleh waktu. Menurutnya, manusia tetap harus memahami nilai logis, membedakan benar dan salah, serta nilai estetis dalam menilai kepantasan dan keindahan.

‎”Kita sekarang bukan hanya menghadapi persoalan etis, tetapi juga bagaimana dalam mengadopsi instrumen-instrumen baru kita tetap berpijak pada aspek-aspek fundamental tersebut,” paparnya.

‎Pria yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif, Refofm Institute itu juga mengingatkan bahwa AI memiliki keterbatasan dalam konsistensi dan disiplin berpikir.

‎ “AI tidak punya sistematika dan tidak punya konsistensi. Jika kita tidak memiliki wawasan dasar, informasi dari AI bisa menyesatkan,” tegasnya.

‎Dalam seminar tersebut, ia mencontohkan pentingnya penguasaan kemampuan dasar sebelum memanfaatkan teknologi. Sama seperti seni lukis yang membutuhkan penguasaan realis sebelum bergerak ke abstrak, pembelajaran menurutnya juga membutuhkan proses bertahap.

‎”Boleh saja sekarang ada AI dan sebagainya, tetapi percayalah, AI itu hanya alat, bukan sandaran utama,” ungkapnya.

‎Lebih rinci, Prof. Yudi juga menolak penggunaan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas akademik. Ia menilai bahwa proses berpikir, mencoba, mengoreksi, serta menyusun gagasan tetap harus menjadi bagian dari pendidikan.

‎”Kecakapan-kecakapan dasar untuk belajar, menulis, dan menginformasikan tetap harus dibangun. Oleh karena itu, saya selalu ingatkan ketika kita ingin berinteraksi dengan teknologi baru seperti AI, jangan sampai kita kehilangan pijakan pada nilai-nilai peradaban,” kata Prof. Yudi memungkasi.

‎Sebagai informasi seminar ini turut dihadiri oleh, Menteri Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Indonesia, Brian Yuliarto, ST., Ketua Dewan Pembina Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM), Sugeng Suparwoto, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robet, Ketua Smart Learning and Character Center (PSLCC) PGRI, Ricardhus Eko Indrajit, serta Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim.

Related Articles

Back to top button