Teknologi

Tiga Mahasiswa ITB Gagas Inovasi Penangkap Karbon untuk Kemajuan Industri Perkeretaapian

Sakawarta, Jakarta – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menggagas inovasi penangkap karbon yang berpotensi mendukung transformasi industri kereta api nasional menuju transportasi rendah emisi.

Gagasan tersebut membawa tim Ganeshasengumi meraih Juara 1 dalam ajang KAI Ideation Challenge, kompetisi business case yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Marketeers di KAI Jakarta Railway Centre (JRC).

Tim ini terdiri atas Roihan M. Iqbal (Teknik Material), Muhamad Tauhid (Teknik Mesin), dan Ilham Hakim (Magister Studi Pembangunan). Mereka mengusulkan konsep carbon capture pada sistem perkeretaapian sebagai langkah inovatif untuk mendukung dekarbonisasi sektor transportasi di Indonesia.

Tim mahasiswa ITB ini memulai prosesnya dengan memahami konteks besar yang dihadapi industri perkeretaapian. Mereka menelaah posisi KAI sebagai BUMN, arah kebijakan transportasi nasional, hingga agenda global seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Analisis tersebut dilakukan menggunakan kerangka PESTEL untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi industri, mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, hingga regulasi.

Dari proses tersebut, lahirlah gagasan inovasi yang terinspirasi dari praktik carbon capture yang telah diterapkan di sektor energi dan industri berat. Pendekatan ini kemudian diterjemahkan ke dalam konteks perkeretaapian. Bagi tim ini, teknologi penangkapan karbon tidak sekadar simbol komitmen lingkungan, tetapi dapat menjadi intervensi teknis yang memperkuat peran kereta api sebagai moda transportasi rendah emisi.

“Kunci kompetisi ini bukan siapa yang idenya paling ‘wah’, tetapi siapa yang idenya paling tepat sasaran dan berani dibawa sampai tuntas,” ujar Roihan M. Iqbal dikutip dari itb.ac.id pada Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, banyak gagasan inovatif berhenti pada level konsep. Tantangannya adalah menunjukkan bahwa ide tersebut memiliki urgensi dan relevansi bagi institusi sebesar KAI.

Baca Juga  Menteri PKP Maruarar Sirait Ajak KAI Bantu Jamin MBR Dapat Rumah Subsidi Berkualitas

Selama proses persiapan, tim melakukan berbagai diskusi lintas disiplin secara intensif. Mereka juga melakukan riset mandiri mengenai tren emisi sektor transportasi, strategi dekarbonisasi global, serta praktik serupa yang telah dilakukan di sektor industri lainnya.

Menjelang tahap final yang digelar di KAI Jakarta Railway Centre pada Selasa (23/12/2025), fokus tim beralih pada penyusunan narasi dan alur presentasi agar gagasan yang cukup teknis dapat dipahami secara jelas oleh dewan juri.

“Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara keberanian ide dan keterterimaan konteks,” kata Roihan.

Ia menilai gagasan carbon capture dalam sistem kereta api berpotensi dianggap terlalu ambisius jika tidak diposisikan secara tepat. Oleh karena itu, tim memperkuat argumen dengan data kebijakan, urgensi pengurangan emisi, serta arah transisi energi global.

Bagi Roihan dan timnya, mengikuti kompetisi ini bukan semata untuk meraih kemenangan. Mereka melihat KAI sebagai BUMN yang memiliki dampak besar terhadap kebijakan publik dan pembangunan nasional.

“Kami ingin mengerjakan problem yang nyata dan strategis, bukan sekadar simulasi bisnis,” ujarnya.

Menariknya, seluruh proses ideasi hingga presentasi dilakukan secara mandiri. Kolaborasi lintas disiplin dalam tim menjadi kekuatan utama yang mempertemukan perspektif teknik, kebijakan, dan bisnis.

Kemenangan ini menunjukkan bahwa gagasan inovatif yang dibangun di atas riset yang kuat dan pemahaman konteks dapat memberikan kontribusi nyata bagi masa depan transportasi Indonesia.

Roihan pun berpesan kepada mahasiswa lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa.

“Jangan mulai dari ide yang ingin terlihat keren, tetapi dari masalah yang memang layak diperjuangkan. Kompetisi ideation bukan soal siapa yang paling kreatif di atas kertas, tetapi siapa yang paling memahami konteks dan berani menguji idenya dengan realitas,” katanya.

Related Articles

Back to top button