DaratTransportasi

Astra Infra Bagikan Lima Tips Defensive Driving, Teknik Berkendara Aman dan Nyaman

Sakawarta, Jakarta – Chief Technical Officer ASTRA Infra, Rinaldi menyatakan keselamatan berkendara, utamanya di jalan tol, menjadi prioritas utama pada setiap perjalanan, khususnya saat mobilitas masyarakat semakin meningkat seperti pada periode libur Nataru atau Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

‎”Sebagai upaya dalam mengantisipasi berbagai resiko saat berkendara, ASTRA Infra mengimbau seluruh pengguna jalan tol untuk menerapkan prinsip defensive driving atau berkendara defensif guna menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” kata Rinaldi dalam keterangannya dikutip Senin (29/12/2025).

‎Menurut National Safety Council (NSC) Amerika Serikat (AS), defensive driving adalah pendekatan berkendara yang bertujuan menyelamatkan nyawa, waktu, dan biaya, dengan berkendara secara aman dan mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi dan situasi di jalan serta perilaku pengguna jalan lainnya.

‎”Defensive driving merupakan teknik berkendara yang menitikberatkan pada upaya pencegahan kecelakaan melalui kewaspadaan, kemampuan mengenali potensi bahaya sejak dini, serta pengambilan keputusan yang tepat,” ujar dia.

‎Senior Instructor Safety Defensive Driving Consultant Indonesia (DCI) Sony Susmana melanjutkan, setidaknya terdapat empat aspek utama dalam defensive driving, yaitu kewaspadaan (alertness), kesadaran (awareness), sikap (attitude), dan kemampuan mengantisipasi (anticipation) terhadap berbagai situasi di jalan.

‎Untuk mendukung pengemudi mencegah terjadinya hambatan selama berkendara, ia memberikan lima tips penerapan defensive driving, berikut penjelasannya:

‎1. Menjaga batas jaga jarak aman 3-4 detik

‎Tidak menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan dapat mengurangi waktu reaksi pengemudi saat menghadapi situasi darurat dan meningkatkan risiko kecelakaan. Untuk itu, pengemudi disarankan menjaga jarak aman sekitar 60–80 meter saat melaju dengan kecepatan 80 km/jam.

‎Sebagai panduan yang lebih praktis, pengemudi dapat menerapkan metode hitungan tiga hingga empat detik. Caranya, pilih patokan yang jelas dan tidak bergerak di sepanjang jalan, seperti tiang lampu atau rambu.

‎Ketika kendaraan di depan melewati patokan tersebut, pengemudi dapat mulai menghitung dan memastikan kendaraannya melewati patokan yang sama setelah hitungan tiga hingga empat detik. Metode ini membantu menjaga jarak yang aman dan memberikan ruang reaksi yang cukup selama berkendara.

‎2. Menjaga kecepatan kendaraan sesuai dengan peraturan lalu lintas yang berlaku

‎Mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengemudi diimbau untuk mematuhi ketentuan batas kecepatan yaitu pada kecepatan minimum 60 km/jam dan maksimum 80 km/jam. Dalam kondisi cuaca hujan, pengguna jalan diharapkan dapat menyesuaikan kecepatan kendaraan yaitu maksimal 70 km/jam guna menjaga keselamatan selama berkendara.

‎Pengaturan kecepatan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, serta memberikan ruang respons yang cukup bagi pengemudi dalam menghadapi berbagai kondisi di jalan, sehingga keselamatan berkendara dapat tetap terjaga.

‎3. Melakukan komunikasi yang baik dengan sesama pengguna jalan

‎Komunikasi yang baik antar pengguna jalan merupakan bagian penting dari penerapan defensive driving. Pengemudi diimbau untuk selalu menggunakan lampu sein sebelum berpindah lajur atau berbelok, membunyikan klakson secara wajar saat diperlukan sebagai bentuk peringatan, serta memberikan isyarat yang jelas saat berhenti di area tertentu.

‎Selain itu, pengemudi juga diharapkan menjaga sikap dan perilaku selama berkendara dengan saling menghargai sesama pengguna jalan. Hal ini dapat mengurangi potensi kesalahpahaman di jalan dan membantu menciptakan kondisi lalu lintas yang lebih aman.

‎4. Melakukan commentary driving untuk menjaga fokus berkendara

‎Commentary driving adalah teknik berbicara sendiri saat mengemudi untuk mengantisipasi bahaya, meningkatkan kewaspadaan, dan melawan kantuk dengan mengaktifkan otak lewat gerakan rahang dan peningkatan oksigen untuk menjaga fokus dan kesadaran penuh pada jalanan, terutama saat perjalanan jauh atau monoton.

‎Dengan melakukan commentary driving, pengemudi dapat menjaga fokus dan kewaspadaan selama perjalanan, sekaligus melatih kemampuan mengantisipasi risiko sejak dini. Teknik ini membantu pengemudi tetap siaga, mengurangi distraksi, serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat demi keselamatan berkendara.

‎5. Bertanggung jawab dalam memprioritaskan keamanan penumpang di sepanjang perjalanan

‎Dalam menjaga keselamatan dan keamanan, pengemudi diharapkan memastikan seluruh penumpang menggunakan sabuk pengaman, menghindari perilaku berkendara yang tidak aman, serta menyesuaikan cara berkendara dengan kondisi jalan dan cuaca.

‎Selain itu, pengemudi juga perlu menjaga kondisi fisik dan emosi selama perjalanan agar tetap fokus dan mampu mengambil keputusan yang aman, sehingga perjalanan dapat berlangsung dengan selamat bagi seluruh penumpang.

‎Rinaldi menambahkan, penerapan defensive driving tidak hanya bergantung pada perilaku pengemudi, tetapi juga didukung oleh lingkungan jalan yang aman dan fasilitas pendukung yang memadai.

‎”Oleh karena itu, ASTRA Infra terus menghadirkan berbagai fasilitas yang dirancang untuk membantu pengguna jalan tetap waspada dan fokus selama perjalanan seperti, peringatan kepada pengemudi untuk mempersiapkan kondisi kendaraan dengan baik yang disampaikan melalui Variable Message Sign (VMS) serta signage yang tersebar di berbagai titik di sepanjang ruas tol ASTRA Infra. Tersedia juga warning light dan lampu strobo yang berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan saat berkendara di malam hari,” kata dia.

Related Articles

Back to top button