Menilik Kesiapan Cemindo Gemilang Dalam Groundbreaking Pembangunan Giant Sea Wall Jakarta

Sakawarta, Jakarta – Pemerintah sampai saat ini terus mematangkan rencana pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di Pantai Utara Jawa. Besar kemungkinan, groundbreaking pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut akan dimulai pada September 2026, sebagaimana telah disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Giant Sea Wall merupakan struktur besar yang dibangun di sepanjang garis pantai untuk memisahkan daratan dan laut, dengan tujuan utama mencegah erosi dan kerusakan akibat gelombang. GSW dirancang untuk melindungi kota Jakarta dari kenaikan permukaan air laut, ancaman banjir rob, dan penurunan permukaan tanah.
Merespons hal tersebut, GM Sales & Marketing PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) Oza Guswara menjelaskan, pembangunan Giant Sea Wall Teluk Jakarta pada dasarnya akan memberi dampak positif bagi ekosistem industri konstruksi, termasuk bagi produsen semen dan beton.
Sebab, lanjut Oza, proyek berskala besar ini membutuhkan material dengan spesifikasi teknis tinggi dan volume yang konsisten dalam jangka panjang.
“Kami menilai proyek perlindungan pesisir bukan semata dari sisi volume, tetapi dari kompleksitas teknis yang menuntut ketahanan struktur terhadap lingkungan laut,” kata Oza dalam keterangan resmi dikutip Rabu (11/2/2026).
Sebagai emiten Semen Merah Putih, Cemindo Gemilang siap memberikan material berkualitas dengan durabilitas jangka panjang untuk menggeliatkan pembangunan Giant Sea Wall di Jakarta.
“Posisi perusahaan adalah mendukung dan memastikan industri memiliki akses terhadap solusi material tepat dan dukungan teknis, agar struktur yang dibangun memiliki durabilitas jangka panjang dan life cycle cost yang efisien,” ucapnya.
Oza menerangkan, dari sisi produksi dan distribusi, proyek pesisir membutuhkan pasokan semen dan beton untuk berbagai aplikasi seperti dinding laut, pemecah ombak, struktur fondasi, hingga pekerjaan beton massal yang terpapar air laut dan lingkungan sulfat.
“Untuk itu, kesiapan tidak hanya berbicara soal kapasitas produksi, tetapi juga kesiapan rantai pasok dan pendampingan teknis sejak tahap awal,” jelasnya.
Produk Unggulan Semen Merah Putih untuk Pembangunan Giant Sea Wall

Menurut Oza, pada fase awal sebelum konstruksi penuh dimulai, dukungan yang paling relevan untuk pembangunan proyek GSW adalah pada tahap perencanaan spesifikasi, uji material, serta kesiapan logistik, kesiapan pasokan material atau supply chain hingga rekomendasi teknis produk sehingga ketika proyek mulai bergulir akan berjalan lancar tanpa kendala.
“Solusi material seperti Semen Merah Putih PRIMAPLUS, yang tersedia dalam dua tipe (GU dan MS) dengan ketahanan terhadap serangan sulfat dan pengurangan panas hidrasi, sangat relevan untuk aplikasi fondasi pesisir dan saluran air yang terpapar lingkungan laut,” kata Sarjana Jurusan Teknik Sipil Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Oza menerangkan, produk lain seperti Semen Merah Putih ULTRAMIX-II juga dirancang khusus untuk memberikan ketahanan terhadap sulfat sedang. Produk ini ideal untuk pekerjaan pelabuhan, jetty, dan breakwater.
Lalu, Semen Merah Putih juga memiliki produk ECOPRO, yang menawarkan ketahanan tinggi terhadap karbonasi dan klorida dengan panas hidrasi rendah, cocok untuk beton massa besar.
“Sikap kami adalah fokus pada kesiapan supply chain dan rekomendasi teknis produk sejak awal penyusunan spesifikasi material, sehingga ketika konstruksi dimulai, kebutuhan proyek dapat dipenuhi secara akurat, efektif, dan berkelanjutan,” ucapnya.
Melansir situs resmi Perusahaan, CMNT menyediakan informasi atas produk unggulan yang khusus dirancang untuk tantangan konstruksi kelautan dan lepas pantai, di antaranya PRIMAPLUS, ULTRAMIX-II, ECOPRO, dan DURAPRO. Masing-masingnya telah memenuhi standar nasional seperti SNI 8912:2020, SNI 2049-1:2020, dan SNI 8363:2017 untuk aplikasi beton berketahanan tinggi.
Oza menekankan, keunggulan produk tersebut terletak pada kemampuan untuk menahan serangan kimia dari air laut (sulfat attack), mengurangi risiko retak akibat panas hidrasi, serta mendukung durabilitas struktur yang terekspos kondisi lingkungan ekstrem di pesisir.
Oza menegaskan, hal ini penting karena struktur sea wall atau tanggul laut yang sukses, tidak hanya membutuhkan volume besar material, tetapi juga kualitas yang tahan terhadap lingkungan agresif untuk meminimalkan biaya perawatan siklus hidup.
Dukungan Beton Merah Putih melalui Precast dan Readymix Berteknologi Carbon Injection

Dengan demikian, keunggulan tersebut menjadi penting karena pada proyek seperti tanggul laut, kualitas material akan sangat menentukan usia layan struktur dan kebutuhan perawatan di masa depan.
Sebagai brand yang menyediakan solusi terintegrasi, melalui anak usahanya yakni PT Motive Mulia sebagai produsen Beton Merah Putih, Oza menyatakan perusahaan siap untuk mendukung berbagai project nasional dalam bentuk produk beton pre-cast atau beton ready-mix yang sudah didukung dengan teknologi carbon-injection.
“Untuk menghasilkan beton ready-mix yang tidak hanya sesuai spesifikasi yang diminta tetapi juga lebih ramah lingkungan,” katanya.
Oza menegaskan, Cemindo Gemilang memiliki banyak portofolio dalam berbagai proyek konstruksi yang membutuhkan ketahanan tinggi, termasuk aplikasi yang berkaitan dengan lingkungan pesisir dan area dengan paparan sulfat. Salah satu yang dapat dibanggakan, terdapat dalam project di Batam.
“Yang dapat kami sampaikan adalah bahwa pengalaman tersebut mencakup berbagai tipe aplikasi struktur pesisir, dan menjadi dasar pengembangan solusi teknis yang kami tawarkan saat ini,” ujarnya.
Cemindo Gemilang dan Dialog Teknis dengan Otoritas Terkait

Oza menjelaskan, mengenai rencana dimulainya proyek Giant Sea Wall pada September 2026, Semen Merah Putih akan mengikuti perkembangan mengenai PSN itu berdasarkan informasi publik yang disampaikan pemerintah.
“Sebagai pelaku industri, kami menghormati seluruh proses perencanaan, penganggaran, dan pengadaan yang berjalan,” ujarnya.
Oza Guswara mengatakan Semen Merah Putih terus memantau perkembangan perencanaan dan membuka diri untuk dialog teknis pada ruang yang sesuai ketika ada inisiatif formal dari pemerintah yang membutuhkan kesiapan material dan dukungan teknis dari pihak industri.
Adapun otoritas terkait pembangunan Giant Sea Wall di antaranya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan hingga Dinas Bina Marga DKI Jakarta.
“Langkah perusahaan ini ini memastikan bahwa keterlibatan kami akan tetap sesuai prosedur. Berbagai informasi komersial akan kami sampaikan di saat telah ada kesepakatan final dan dikonfirmasi oleh pihak berwenang,” kata Oza Guswara.
Dana Pembangunan Giant Sea Wall

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnya mengungkap sumber dana untuk pembangunan proyek Giant Sea Wall.
Menurut dia, pemerintah melalui Badan Otorita Perlindungan Pantura Jawa sedang menggodok rancangan teknis proyek Giant Sea Wall bersamaan dengan pematangan konsep pembiayaannya.
Sumber biaya proyek Giant Sea Wall pertama dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Secara umum tentu ada yang merupakan ataupun sumber penganggaran APBN atau pemerintah ya, pemerintah tentu APBN dan APBD. Karena nanti akan melibatkan sejumlah provinsi dan juga kabupaten kota,” ujar AHY di Kementerian Keuangan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sementara, sumber pembiayaan kedua berasal dari investasi swasta, yakni Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership (PPP).
“Tentunya khusus terkait dengan investasi, yaitu kita ingin mendatangkan sebanyak-banyak investasi untuk bisa melengkapi dan memperkuat pembiayaan,” tutur AHY.
Ia menegaskan, pemerintah akan mengawal secara ketat proyek pembangunan Giant Sea Wall Jakarta yang ditargetkan groundbreaking pada September 2026.
“Kita sekarang punya badan otorita yang khusus didirikan untuk pengamanan atau pengelolaan Pantura Jawa. Kami juga akan mengawal secara ketat karena juga masih dalam koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan,” tutur AHY.







